JABARONLINE.COM - Wacana mengenai penetapan Hari Raya Idulfitri tahun 2026 mulai mengemuka di kalangan pengamat falak di Indonesia. Hal ini dipicu oleh perhitungan astronomis awal yang mengindikasikan adanya potensi pergeseran jadwal perayaan hari kemenangan tersebut.
Lembaga falakiyah di berbagai institusi, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), kini tengah mengintensifkan kajian mendalam. Kajian ini bertujuan untuk memprediksi secara akurat jatuhnya tanggal 1 Syawal 1448 Hijriah.
Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, pandangan NU sangat dinantikan dalam penentuan kalender Hijriah. NU telah mulai merumuskan proyeksi awal mengenai tanggal perayaan Idulfitri tahun 2026 mendatang.
Prediksi awal ini bersandar pada analisis ilmiah dan mendalam mengenai posisi bulan sabit muda atau yang dikenal sebagai hilal. Faktor ketinggian hilal saat matahari terbenam menjadi penentu utama dalam penetapan bulan baru.
"Menurut analisis awal yang dilakukan oleh pihak NU, posisi hilal diproyeksikan masih berada pada ketinggian yang sangat rendah saat matahari terbenam di akhir Ramadan 1447 H," demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh tim falakiyah NU.
Ketinggian hilal yang berada pada posisi sangat rendah merupakan indikasi kuat yang mempengaruhi kemungkinan Rukyatul Hilal (penampakan bulan). Kondisi ini dinilai menjadi faktor krusial dalam penentuan awal bulan dalam sistem kalender Hijriah.
Jika proyeksi ini terkonfirmasi, maka pergeseran jadwal Idulfitri 2026 ke akhir Maret 2026 sangat mungkin terjadi. Penetapan tanggal pasti akan dilakukan melalui metode observasi langsung pada malam sebelum hari raya.
Proses penentuan ini menegaskan pentingnya metode ilmiah yang dipadukan dengan ketetapan syariat dalam penetapan kalender Islam di Indonesia. Hasil akhir akan menjadi acuan bagi umat Islam di Tanah Air.
Dilansir dari BISNISMARKET.COM, kajian intensif ini merupakan langkah preventif untuk memberikan kepastian jadwal kepada masyarakat luas. Proses ini harus melalui verifikasi ketat sebelum diumumkan secara resmi.
