JABARONLINE.COM - Pasar komoditas energi global tengah menghadapi potensi kenaikan harga minyak mentah yang signifikan dalam waktu dekat. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa harga minyak dunia berpotensi mencapai ambang batas US$100 per barel pada minggu mendatang.

Pemicu utama dari kenaikan drastis ini adalah adanya gangguan serius pada rantai pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik di wilayah tersebut mulai memberikan dampak nyata terhadap volume distribusi minyak mentah dunia.

Lebih lanjut, jika eskalasi masalah distribusi ini tidak segera menemukan solusi, dampak yang lebih besar dapat terjadi. Terdapat kekhawatiran bahwa harga minyak bisa melonjak hingga US$150 per barel pada penghujung bulan ini.

Peringatan serius mengenai kondisi pasar ini disampaikan oleh salah satu lembaga keuangan investasi terbesar di dunia. Informasi ini menarik perhatian pasar karena berasal dari institusi yang memiliki pandangan mendalam terhadap dinamika ekonomi global.

"Peringatan tersebut disampaikan oleh bank investasi global Goldman Sachs menyusul menurunnya pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak terbesar dunia dengan pasar global," dilansir dari Guardian, Minggu (8/3/2026).

Penyebab utama dari prediksi kenaikan harga yang tajam ini adalah penyempitan jalur pelayaran kritis. Selat Hormuz diketahui merupakan urat nadi utama bagi ekspor minyak dari produsen-produsen minyak terbesar di dunia.

Penurunan volume pengiriman minyak mentah yang tercatat melalui Selat Hormuz menjadi indikator kuat bahwa pasokan global sedang terancam. Hal ini secara otomatis menciptakan tekanan beli yang mendorong kenaikan harga di pasar berjangka.

Keterbatasan akses terhadap jalur distribusi vital ini memaksa pasar untuk mengantisipasi kekurangan pasokan riil dalam waktu dekat. Oleh karena itu, pelaku pasar mulai menyesuaikan ekspektasi harga mereka ke level yang lebih tinggi.

Kutipan langsung dari laporan tersebut menegaskan kerentanan sistem pasokan energi saat ini. "Bahkan, harga minyak berpotensi mencapai US$150 per barel pada akhir bulan apabila gangguan distribusi tidak segera teratasi," ujar seorang analis yang dikutip oleh media tersebut.