JABARONLINE.COM - Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan komitmen serius dalam upaya menanggulangi masalah gizi buruk, khususnya stunting, bahkan di tengah pelaksanaan ibadah Ramadan. Langkah-langkah strategis ini dirancang untuk memberikan dampak cepat dan berkelanjutan bagi masyarakat rentan.
Untuk mencapai target penurunan angka stunting, Pemerintah Daerah melalui dinas terkait mempercepat implementasi program-program inovatif yang menyentuh langsung akar masalah. Program-program ini diharapkan mampu memberikan solusi holistik bagi warga Tasikmalaya.
Inisiatif unggulan yang kini menjadi sorotan adalah program yang diberi nama PESTA TELUR. Program ini dinilai sangat adaptif dan mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat di wilayah Tasikmalaya.
PESTA TELUR merupakan akronim yang memiliki makna mendalam, yaitu Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur. Nama ini mencerminkan sinergi antara upaya perbaikan status gizi dan pemberdayaan sektor ekonomi lokal.
Program ini secara cerdas menggabungkan dua pilar utama penanganan kesejahteraan. Di satu sisi, fokusnya adalah peningkatan asupan gizi keluarga, dan di sisi lain, program ini mendorong terciptanya sumber ekonomi mandiri bagi masyarakat.
Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKBP3A) menjadi motor penggerak utama dalam percepatan penanganan isu krusial ini. Mereka bertanggung jawab memastikan program berjalan sesuai rencana.
"Pemerintah daerah mempercepat penanganan stunting melalui berbagai program inovatif," demikian salah satu pernyataan yang disampaikan mengenai urgensi implementasi program ini, dilansir dari sumber berita terkait.
Program PESTA TELUR secara spesifik menargetkan peningkatan ketersediaan protein hewani murah melalui budidaya ayam petelur, yang sangat penting dalam melawan kekurangan gizi penyebab stunting. Hal ini merupakan terobosan yang patut diapresiasi oleh publik.
Melalui pendekatan terpadu ini, Tasikmalaya berharap dapat melihat penurunan signifikan pada prevalensi stunting dalam waktu dekat, sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi berbasis peternakan skala kecil.
