Pemerintah Indonesia tengah memacu peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui inisiatif ambisius yang menyasar para lulusan sekolah vokasi. Melalui program bertajuk SMK Go Global, otoritas terkait menargetkan pengiriman hingga 500.000 pekerja migran Indonesia (PMI) pada tahun 2026 mendatang. Langkah strategis ini diharapkan mampu membuka jalan bagi tenaga kerja muda untuk berkarier di kancah internasional secara profesional.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, telah melakukan koordinasi intensif terkait rencana besar ini. Ia mengadakan pertemuan khusus dengan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, di kantor Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta, pada Selasa (24/2/2026). Diskusi tersebut berfokus pada sinkronisasi kebijakan untuk memastikan kesiapan infrastruktur pendukung program tersebut di lapangan.
Program SMK Go Global tidak hanya sekadar mengirimkan tenaga kerja, tetapi juga menitikberatkan pada kesiapan kompetensi teknis yang mumpuni. Skema ini dirancang sedemikian rupa agar para lulusan vokasi memiliki daya saing yang setara dengan tenaga kerja asing lainnya di pasar global. Selain itu, pemerintah ingin mengubah paradigma pengiriman PMI dari sektor informal menuju sektor formal yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Mukhtarudin menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam mengawal implementasi program ini secara menyeluruh dari hulu hingga ke hilir. Koordinasi di Jakarta tersebut menjadi tonggak awal dalam menyusun peta jalan perlindungan PMI yang jauh lebih komprehensif dan sistematis. Pihak kementerian berkomitmen untuk memfasilitasi berbagai pelatihan bahasa serta sertifikasi internasional bagi para calon pekerja migran tersebut.
Dampak positif dari program ini diprediksi akan terasa pada penguatan ekonomi nasional melalui peningkatan remitansi yang lebih stabil di masa depan. Dengan skema perlindungan yang lebih kuat, risiko hukum dan sosial yang sering menghantui para pekerja migran diharapkan dapat diminimalisasi secara signifikan. Program ini juga menjadi solusi konkret pemerintah dalam menekan angka pengangguran terbuka di kalangan lulusan sekolah menengah kejuruan.
Hingga saat ini, pemerintah terus berupaya mematangkan kurikulum vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri di berbagai negara tujuan ekspor tenaga kerja. Berbagai kesepakatan bilateral tengah dijajaki untuk memastikan ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi para lulusan program SMK Go Global. Fokus utama pengembangan tetap tertuju pada sektor-sektor strategis seperti manufaktur, kesehatan, hingga teknologi informasi di kancah global.
Ambisi besar untuk mengirimkan setengah juta pekerja migran pada 2026 menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Keberhasilan program SMK Go Global akan menjadi tolok ukur efektivitas transformasi pendidikan vokasi dalam merespons dinamika pasar kerja dunia yang kian kompetitif. Pemerintah optimis bahwa dengan persiapan yang matang, PMI masa depan akan menjadi duta bangsa yang profesional dan membanggakan.
Sumber: Beritasatu
.png)
.png)
