JABARONLINE.COM - Pemerintah Indonesia diimbau untuk segera mewaspadai dampak signifikan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) menjadi variabel utama yang patut dicermati dalam proyeksi fiskal nasional.

Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan ini berpotensi besar memicu pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara signifikan. Jika skenario terburuk terjadi, defisit tersebut dikhawatirkan dapat melonjak hingga menyentuh angka empat persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Ancaman terbesar terletak pada kemungkinan gangguan terhadap jalur pelayaran vital di kawasan tersebut. Gangguan ini secara langsung akan memengaruhi stabilitas pasokan energi global yang sangat krusial bagi perekonomian Indonesia.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Hakam Naja, menyoroti pentingnya peran Selat Hormuz dalam rantai pasok energi dunia. Selat ini merupakan jalur sempit yang sangat strategis bagi pergerakan minyak mentah.

"Selat Hormuz merupakan titik sempit (choke point) di Teluk Persia yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia," ujar Hakam Naja.

Lebih lanjut, Hakam Naja menekankan konsekuensi dari potensi disrupsi pada jalur pelayaran tersebut. Gangguan di Selat Hormuz diprediksi akan meningkatkan ketegangan geopolitik secara keseluruhan.

"Apabila jalur ini terganggu, ketegangan geopolitik dapat meningkat dan memicu lonjakan harga minyak global," kata Hakam Naja.

Kenaikan harga minyak global sebagai dampak langsung dari gangguan suplai akan memberikan tekanan ganda pada neraca keuangan negara. Beban subsidi energi dan impor minyak mentah diprediksi akan membengkak drastis.

Risiko fiskal ini harus segera diantisipasi melalui langkah-langkah mitigasi yang terencana. Pemerintah perlu menyiapkan strategi cadangan untuk menjaga agar defisit APBN tetap berada dalam batas aman yang telah ditetapkan.