JABARONLINE.COM - Pecahnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memberikan pukulan telak bagi stabilitas mata uang domestik. Pada perdagangan hari Jumat, 6 Maret 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan tren depresiasi yang cukup signifikan saat berhadapan dengan mata uang dolar Amerika Serikat. Tekanan ini merupakan refleksi langsung dari sentimen negatif yang menyebar luas di pasar keuangan global akibat instabilitas kawasan tersebut.
Berdasarkan pantauan data dari Bloomberg hingga pukul 09.41 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda tercatat kehilangan bobotnya sebesar 8 poin. Secara persentase, pelemahan ini setara dengan 0,59%, menempatkan rupiah pada posisi kurs Rp 16.913 untuk setiap dolar AS yang diperdagangkan. Angka ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi investor menuju aset yang dianggap lebih aman.
Pemicu utama dari tergerusnya nilai tukar ini adalah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, yang secara otomatis memicu kenaikan tajam pada harga komoditas energi dunia. Selain itu, kekhawatiran pasar semakin membesar mengenai potensi gangguan serius pada jalur pelayaran vital yaitu Selat Hormuz. Situasi ini meningkatkan premi risiko yang dibebankan pada mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Sementara rupiah berada di bawah tekanan, mata uang safe haven justru menunjukkan performa yang kontras di pasar perdagangan internasional. Indeks dolar AS terpantau berhasil menguat secara konsisten, mencatatkan kenaikan sekitar 0,34% pada periode waktu yang bersamaan. Penguatan indeks ini mempertegas kecenderungan investor untuk menarik modal dari instrumen berisiko.
Kondisi pelemahan ini terjadi di Jakarta, sebagaimana dilaporkan oleh sumber dari Beritasatu.com pada hari tersebut. Sentimen risk-off global yang dipicu oleh ketidakpastian politik di Timur Tengah mendominasi pergerakan nilai tukar sepanjang sesi perdagangan pagi itu. Pasar bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan berita yang mengancam pasokan energi global.
Pergerakan Rp 16.913 per dolar AS ini menjadi penanda bahwa isu geopolitik memiliki dampak riil dan cepat terhadap stabilitas ekonomi domestik. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan di Timur Tengah dengan seksama, sebab setiap eskalasi baru dapat memperburuk tekanan jual yang sudah terjadi pada rupiah. Perhatian kini tertuju pada bagaimana Bank Indonesia akan merespons volatilitas ini.
Dengan demikian, hari Jumat 6 Maret 2026 ditutup dengan catatan pelemahan rupiah yang erat kaitannya dengan dinamika ketegangan internasional. Fokus utama investor masih tertuju pada upaya meredakan konflik dan memastikan kelancaran jalur perdagangan energi krusial. Stabilitas rupiah di masa mendatang sangat bergantung pada meredanya situasi panas di Timur Tengah.
