JABARONLINE.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) kembali terjadi pada awal pekan perdagangan hari Senin, 16 Maret 2026. Tren penurunan ini menandakan tekanan signifikan yang dihadapi mata uang domestik di pasar valuta asing.

Pergerakan kurs pada sore hari menunjukkan bahwa rupiah semakin mendekati level psikologis krusial yakni Rp 17.000 untuk setiap dolar AS. Angka ini sering menjadi patokan penting bagi investor dan pelaku pasar keuangan.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali turun pada awal pekan perdagangan, Senin (16/3/2026) sore," demikian dilaporkan Beritasatu.com mengenai kondisi pasar saat itu.

Kondisi pelemahan ini secara langsung mendorong kurs rupiah untuk terus merangkak naik mendekati ambang batas psikologis tersebut. Pasar tengah mencermati berbagai sentimen yang beredar di kancah internasional.

Pada sesi perdagangan sore hari itu, tercatat bahwa nilai rupiah berada di kisaran Rp 16.997 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya depresiasi yang cukup substansial dari penutupan sebelumnya.

Sebelum mencapai posisi tersebut, rupiah bahkan sempat mengalami tekanan yang lebih berat saat sesi perdagangan berlangsung. Tercatat sempat menyentuh level Rp 17.006 per dolar AS pada titik terendahnya.

Tekanan utama yang disebut-sebut memicu gejolak ini berasal dari perkembangan terkini mengenai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut seringkali meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS.

Dinamika pasar yang terjadi pada hari Senin tersebut merupakan refleksi langsung dari ketidakpastian global yang sedang membayangi stabilitas mata uang regional di Asia. Ini adalah bagian dari respons pasar terhadap berita internasional.

"Pelemahan ini membuat kurs rupiah semakin mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS," demikian salah satu poin penting yang disoroti mengenai pergerakan rupiah sore itu, dilansir dari Beritasatu.com.