Dahulu, aku mengira dunia hanyalah taman bermain luas tanpa batas yang selalu menyediakan tawa tanpa henti. Namun, perlahan bayang-bayang realitas mulai menyapu keceriaan itu dengan warna yang lebih kelam dan serius.
Kegagalan besar pertama menghantamku tepat di ulu hati, meruntuhkan menara ego yang telah kubangun bertahun-tahun. Saat itu, aku menyadari bahwa air mata bukan tanda kelemahan, melainkan pembersih jiwa yang sedang kelelahan.
Aku mulai berjalan di lorong sepi yang memaksaku untuk berbicara dengan diriku sendiri secara jujur dan terbuka. Di sana, aku menemukan banyak luka lama yang selama ini hanya kututup rapat dengan senyuman palsu.
Setiap detik yang terlewati menjadi babak baru dalam sebuah novel kehidupan yang sedang kutulis sendiri tanpa bantuan pena. Tak ada naskah yang pasti, hanya ada keberanian untuk tetap melangkah meski kaki terasa sangat berat.
Kedewasaan ternyata bukan tentang berapa banyak angka yang bertambah pada usia biologis yang kita miliki saat ini. Ia adalah tentang seberapa tenang kita menghadapi badai yang mencoba menenggelamkan seluruh harapan yang ada.
Aku belajar memaafkan orang lain, tetapi yang paling sulit adalah memaafkan diriku atas segala kesalahan di masa lalu. Proses ini memakan waktu lama, namun membuahkan ketenangan batin yang tak bisa dibeli dengan materi apa pun.
Kini, aku melihat dunia dengan mata yang berbeda, terasa lebih jernih dan penuh dengan rasa syukur yang mendalam. Setiap rintangan bukan lagi dianggap sebagai musuh, melainkan guru yang datang menyamar sebagai beban hidup.
Langit sore itu tampak lebih indah, seolah merayakan transformasi batin yang telah berhasil kulalui dengan penuh peluh. Aku berdiri tegak, menyambut masa depan yang masih menjadi misteri besar bagi setiap langkah manusia.
Namun, satu pertanyaan besar masih tersisa di benakku: apakah aku benar-benar sudah dewasa, atau ini hanyalah awal dari ujian yang lebih berat? Jawaban itu mungkin masih terkubur di balik keputusan besar yang akan kuambil esok pagi.
.png)
.png)
