Langit sore itu tak lagi berwarna jingga, melainkan kelabu pekat yang seolah hendak menelan seluruh impian masa mudaku. Kabar duka yang datang tiba-tiba memaksa duniaku berhenti berputar sejenak, meninggalkan kehampaan yang menyesakkan dada.
Aku yang terbiasa hidup dalam lindungan sayap orang tua, mendadak harus berdiri tegak di tengah badai tanpa payung. Tanggung jawab yang selama ini terasa jauh, kini hinggap di pundakku dengan beban yang tak terlukiskan.
Setiap malam, aku bergelut dengan sunyi dan tumpukan tagihan yang menanti untuk diselesaikan dengan sisa tabungan yang menipis. Air mata bukan lagi pelarian, melainkan saksi bisu betapa kerasnya dunia menempa mentalku menjadi baja.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukan tentang berapa angka usia yang kita sandang setiap kali merayakan hari kelahiran. Kedewasaan adalah tentang bagaimana kita memilih untuk tetap berjalan meski kaki penuh luka dan hati sedang patah.
Lembar demi lembar hari kulewati seperti membaca sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot twist tak terduga dan konflik yang menguras energi. Aku belajar membedakan antara keinginan yang semu dan kebutuhan yang harus didahulukan demi kelangsungan hidup.
Teman-teman sebayaku sibuk mengejar tren dan pesta, sementara aku sibuk merangkai strategi agar adik-adikku tetap bisa mengenyam pendidikan. Ada rasa iri yang sempat menyelinap, namun segera kupadamkan dengan api semangat yang baru kutemukan.
Pengalaman pahit ini ternyata adalah guru terbaik yang tidak pernah memberikan teori, melainkan langsung menyodorkan ujian tanpa persiapan. Aku tidak lagi melihat kegagalan sebagai akhir, melainkan sebagai koma yang memberi jeda untuk mengambil napas lebih dalam.
Kini, cermin di hadapanku memantulkan sosok yang berbeda, dengan sorot mata yang lebih tenang namun penuh dengan keteguhan. Luka-luka lama telah mengering, meninggalkan bekas yang menjadi pengingat bahwa aku pernah bertahan di titik terendah.
Ternyata, untuk menjadi dewasa, kita tidak butuh waktu yang lama, melainkan keberanian untuk memeluk rasa sakit dan mengubahnya menjadi kekuatan. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi badai berikutnya yang mungkin lebih besar dari ini?
.png)
.png)
