JABARONLINE.COM - Sektor mineral kritis di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan signifikan terkait tingkat eksplorasi yang minim. Padahal, sektor ini menyimpan potensi besar untuk mendatangkan gelombang investasi asing yang substansial.

Potensi investasi ini sangat bergantung pada iklim investasi yang kondusif dan dapat diprediksi oleh para pemodal global. Kepastian hukum menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi jangka panjang.

Isu mengenai kurangnya eksplorasi ini menjadi sorotan penting dalam diskusi mengenai penguatan rantai pasok mineral di kawasan Asia. Mineral kritis merupakan bahan baku vital bagi teknologi masa depan dan transisi energi global.

Dalam konteks ini, pandangan dari para pakar internasional menjadi sangat relevan untuk memandu arah kebijakan domestik. Mereka menyoroti elemen-elemen kunci yang harus dipenuhi oleh negara-negara Asia.

Direktur Critical Minerals Security Program dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Gracelin Baskaran, memberikan penekanan khusus pada aspek regulasi. Beliau menggarisbawahi pentingnya fondasi kebijakan yang kuat.

"Diperlukan adanya kebijakan yang stabil dan kredibel agar negara-negara di kawasan Asia mampu menarik investasi di sektor mineral kritis," ujar Gracelin Baskaran.

Pernyataan ini menegaskan bahwa fluktuasi kebijakan dapat menjadi penghalang besar bagi masuknya modal asing yang dibutuhkan untuk pengembangan eksplorasi mineral. Investor membutuhkan jaminan bahwa aturan main tidak akan berubah secara tiba-tiba.

Perlunya stabilitas ini juga berlaku bagi Indonesia, mengingat posisi strategis negara ini dalam rantai pasok mineral global. Upaya menarik investasi harus dibarengi dengan reformasi struktural yang berkelanjutan.

Dilansir dari Beritasatu.com, sektor ini dinilai mampu menjadi motor penggerak utama dalam menarik aliran dana segar ke kas negara jika prospek investasinya jelas. Ini menunjukkan urgensi dalam menyusun kerangka regulasi yang kokoh.