Diskusi mengenai eksistensi perempuan dalam konteks kebangsaan sering kali terjebak di antara dua pemikiran yang sangat kontras. Kita kerap dihadapkan pada pilihan antara konservatisme yang mengekang atau liberalisme yang melupakan akar nilai-nilai agama. Sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar, sudah saatnya kita menempatkan Muslimah sebagai subjek utama dalam pembangunan peradaban dunia.
Islam memberikan penegasan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak pernah diukur berdasarkan jenis kelamin tertentu di hadapan Allah. Fokus utama dalam ajaran agama adalah kualitas ketakwaan serta besarnya kontribusi nyata yang diberikan bagi kemaslahatan umat manusia. Peradaban yang gemilang mustahil dapat terwujud jika potensi intelektual dan spiritual kaum perempuan diabaikan begitu saja.
Landasan kesetaraan dalam beramal dan meraih kehidupan yang berkah telah diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kalam-Nya yang mulia. Prinsip ini menjadi motivasi bagi setiap Muslimah untuk terus produktif tanpa ragu akan nilai kebaikannya. Berikut adalah penegasan Allah dalam Al-Qur'an:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً
Terjemahan: Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. (QS. An-Nahl: 97)
Meskipun keluarga merupakan institusi terkecil dan fondasi utama bagi seorang Muslimah, namun peran mereka tidak boleh berhenti di sana. Membatasi ruang gerak perempuan hanya pada ranah domestik tanpa memberikan kesempatan aktualisasi ilmu adalah sebuah kerugian besar bagi bangsa. Para ulama dan pemikir Islam sepakat bahwa menuntut ilmu serta menyebarkannya adalah kewajiban yang melekat pada setiap individu.
Di tengah derasnya arus disrupsi saat ini, Muslimah dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas, adaptif, dan tetap teguh pada prinsip syar'i. Penguasaan teknologi dan literasi yang mumpuni akan menjadi modal utama dalam mendidik generasi masa depan yang tangguh. Kontribusi di sektor publik harus dipandang sebagai bentuk pengabdian untuk memperkuat struktur sosial dan ekonomi umat secara luas.
Mari kita reaktualisasikan peran strategis Muslimah sebagai arsitek peradaban yang memadukan kecerdasan intelektual dengan keanggunan akhlak. Sinergi antara peran di dalam rumah tangga dan kontribusi di masyarakat akan menciptakan keseimbangan hidup yang sangat harmonis. Dengan menjadikan iman sebagai kompas utama, setiap langkah yang diambil akan bernilai ibadah dan membawa keberkahan bagi negeri.
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)
