JABARONLINE.COM - Pemerintah kini tengah mengkaji ulang kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) sebagai langkah strategis di sektor ketenagakerjaan. Upaya ini dilakukan guna mencari solusi konkret dalam menekan angka konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat nasional secara signifikan.

Wacana ini kembali mencuat ke publik seiring dengan ketidakpastian kondisi geopolitik global yang kian dinamis. Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah dinilai memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas pasokan serta harga energi di pasar dunia.

Sebagaimana dilansir dari BisnisMarket.com, langkah ini dianggap sebagai jalan keluar untuk menghadapi dampak ekonomi dari konflik internasional tersebut. Fokus utamanya adalah mencari metode paling efektif untuk melakukan efisiensi energi nasional tanpa mengganggu produktivitas sektor formal.

Sejumlah anggota legislatif di Senayan mulai memetakan hari yang paling ideal untuk penerapan kebijakan kerja jarak jauh ini. Mereka berupaya memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar memberikan dampak positif bagi penghematan energi dan anggaran negara.

"Wacana penerapan kebijakan WFH ini menjadi semakin relevan menyusul adanya dinamika geopolitik global, khususnya imbas dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah," ujar salah satu legislator di Senayan.

Pemilihan hari Rabu sebagai waktu pelaksanaan WFH muncul sebagai opsi tunggal yang dinilai paling masuk akal. Hal ini didasari oleh pertimbangan mendalam mengenai efektivitas jam kerja dan upaya meminimalisir potensi penyalahgunaan waktu di lapangan.

"Kami mencoba memetakan hari efektif terbaik untuk menerapkan kebijakan kerja jarak jauh tersebut demi mencapai efisiensi energi nasional yang optimal," kata perwakilan legislator tersebut.

Terdapat kekhawatiran yang cukup besar dari pihak parlemen jika WFH diterapkan pada hari Jumat. Mereka khawatir kebijakan tersebut justru akan disalahgunakan oleh masyarakat untuk melakukan liburan massal atau perjalanan jarak jauh yang tidak mendesak.

"Fokus utama kami adalah bagaimana memastikan kebijakan ini benar-benar berdampak pada penghematan tanpa menimbulkan dampak negatif secara sosial," tutur legislator Senayan tersebut.