JABARONLINE.COM - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan signifikan pada perdagangan hari Senin siang, 9 Maret 2026. Mata uang domestik ini terpantau bergerak mendekati level psikologis krusial, yaitu Rp 17.000 per Dolar AS.

Pelemahan yang terjadi pada kurs Rupiah ini dipicu oleh adanya sentimen risk-off global yang melanda pasar keuangan internasional. Sentimen ini menyebabkan investor cenderung menarik dana mereka dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Faktor utama yang memicu ketidakpastian global adalah lonjakan tajam pada harga minyak mentah dunia. Harga minyak global dilaporkan telah melampaui batas psikologis US$ 100 per barel pada periode tersebut.

Kenaikan harga komoditas energi ini berbanding lurus dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tensi di wilayah produsen minyak utama tersebut menjadi sumber kekhawatiran serius bagi stabilitas ekonomi dunia.

Kondisi ini memberikan tekanan ganda pada mata uang Rupiah, yang sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas energi dan sentimen investor global. Investor global kini mencari aset yang dianggap lebih aman (safe haven).

Dilansir dari Beritasatu.com, pelemahan Rupiah ini secara spesifik terjadi pada sesi perdagangan siang hari Senin kemarin. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pasar sedang mencerna dampak lanjutan dari perkembangan geopolitik yang memanas.

"Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin (9/3/2026) siang dan mendekati level Rp 17.000 per dolar AS," demikian dikutip dari laporan tersebut.

Lebih lanjut, analisis pasar menyebutkan bahwa pelemahan tersebut terjadi di tengah sentimen risk-off global setelah harga minyak dunia melonjak di atas US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini menggarisbawahi korelasi erat antara energi dan stabilitas nilai tukar.

Kondisi ini menempatkan otoritas moneter dalam posisi yang memerlukan kewaspadaan tinggi dalam menjaga stabilitas pergerakan nilai tukar domestik di tengah gejolak pasar internasional.