Tetes
Literasi, Gelombang Kesetaraan
Water and Gender Hari Air Sedunia
2026
Â
Ruhimat,S.Sos,M.I.Kom
Dosen Sains Komunikasi
Universitas Djuanda
"Air dan Perempuan"
adalah tema Hari Air Sedunia 2026 yang sangat relevan mengingat masalah air
global saat ini. Tema ini menunjukkan bahwa anak perempuan dan perempuan
seringkali memikul tanggung jawab utama untuk mengelola air rumah tangga, dan
fakta bahwa akses air bersih sering kali tidak setara antara laki-laki dan
perempuan. Mengubah paradigma ini memerlukan literasi air, yang memungkinkan
wanita menjadi agen perubahan dalam manajemen sumber daya air yang
berkelanjutan. Isu ini semakin penting di Indonesia, terutama di daerah
pedesaan seperti Bogor, karena perempuan menghabiskan waktu berjam-jam hanya
untuk mengambil air.
Kesetaraan sosial-ekonomi
dipengaruhi langsung oleh ketidaksetaraan gender dalam akses air. Di banyak
komunitas, perempuan yang mengambil air dari sumber jauh kehilangan waktu untuk
istirahat, sekolah, atau bekerja. Ini memperpanjang siklus kemiskinan dan
membatasi peran wanita dalam pengambilan keputusan keluarga dan masyarakat.
Literasi air dapat menghentikan rantai ini dengan mengajarkan hak akses yang
adil dan cara menghemat air, memungkinkan perempuan untuk berkonsentrasi pada
pertumbuhan diri mereka sendiri.
Literasi air adalah pemahaman
mendalam tentang gender selain pengetahuan teknis tentang sanitasi dan
konservasi. Melalui pendidikan ini, wanita dididik tentang hubungan antara air
dan kesehatan reproduksi, keamanan pangan, dan ketahanan lingkungan. Ekofeminisme
menganggap perempuan sebagai penjaga alam secara alami, sehingga literasi air
harus mencakup semua orang agar mereka dapat menjadi pemimpin lokal dalam
pengelolaan sumber daya alam. Di Indonesia, program literasi berbasis komunitas
telah menunjukkan bahwa model ini berhasil.
