Masjid Al-Safar Menurut MUI, Gubernur & Rahmat Baequni

Jabar Online (Bandung)-, Suatu hari, Rahmat Baequni dan keluarga berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Di tengah jalan, mereka singgah di area peristirahatan Km 88 tol Purbaleunyi di daerah Purwakarta, Jawa Barat.

Mereka pun masuk ke masjid di sana, tapi Rahmat menahan anak dan istrinya untuk salat. “Saya lihat masjidnya sarat bermuatan segitiga,” kata Rahmat.

Masjid itu bernama Al Safar. Arsitekturnya adalah rancangan tim arsitek Urbane dari gagasan Gubernur Jawa Barat, Ridwan “Emil” Kamil. Sampai di dalam, terlihat lingkaran hitam yang tergantung di tengah-atas bagian dalam bentuk segitiga yang disebutnya bermata satu. Bentuk itu berada di area mihrab atau imam salat.

“Maka ketika kita salat sebetulnya menghadap siapa? Kita menghadap Allah atau segitiga mata satu?”

Cerita itu mengalir ketika Rahmat berceramah di suatu tempat di Yogyakarta. Video rekamannya dipublikasi dalam tiga potongan oleh Teras Dakwah sejak Januari hingga Mei 2019 di YouTube. Cuplikan videonya belakangan viral di Twitter.

Pada ceramahnya yang berjudul Dauroh Akhir Zaman itu, Rahmat mengaitkan bentuk masjid itu dengan gerakan pemuja dajjal dan iblis. Mereka bergerak secara global dalam tiga ranah kehidupan manusia; simbol, ritual, dan arsitektur.

Pada kesempatan lain dalam rangka Silaturahim dan Diskusi Umum bertema “Bersama Membangun Ummat”, bersama Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, digelar menghadirkan Ketua MUI Jawa Barat KH Rahmat Syafei, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Ustadz Rahmat Baequni, di Bale Asri Pusdai Jabar, Jl. Diponegoro No. 63 Bandung, Senin (10/06/2019).

Pertemuan ini selain untuk mempererat ukhuwah Islamiyah juga membahas perkembangan arsitektur Islam di dunia termasuk perselisihan paham mengenai masjid Al-Safar yang terletak di KM 88 B tol Purbaleunyi, Purwakarta, Jawa Barat. Baik Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil maupun Ustaz Rahmat Baequni telah memaparkan pandangannya tentang bentuk segitiga dan lingkaran yang terdapat di dalam masjid tersebut.

Dalam pemaparannya Emil –demikian Ridwan Kamil disapa– sempat mengungkap, bahwa jika segitiga, elips, ataupun lingkaran merupakan bentuk geometri yang umum, bahkan dipelajari pada pelajaran matematika. Sementara dalam ilmu arsitektur, bentuk- bentuk geometri dapat digunakan untuk menggali kreativitas dalam berarsitektur.

Emil menjelaskan asal muasal rancangan masjid Al-Safar. Selain itu, dia juga memaparkan bahwa masjid Al-Safar dirancang via teori lipat (folding architecture), sehingga didominasi oleh bentuk segitiga.

Setelah mengutarakan pendapatnya, Emil dan Ustaz Rahmat Baequni satu suara. Meski sempat berbeda pandangan, Emil dan Ustaz Rahmat Baequni meminta ulama-ulama di Indonesia membuat kesepakatan soal bentuk dan ornamen masjid di Tanah Air.

Menurut Emil, hal tersebut perlu dilakukan agar tidak terjadi kebingungan. Sehingga, perbedaan-perbedaan pandangan soal rancangan masjid tak kembali terjadi pada masa depan.

“Intinya, saya muslim yang taat, pasti pada ulama. Cuma bersepakatlah dahulu karena umat bingung kalau belum ada kesepakatan,” ucapnya.

“Kalau bersepakat nanti peradaban Islam berikutnya lebih tenang tidak ada perbedaan-perbedaan pandangan. Saya kira, ijtihad itu yang saya titipkan ke MUI atau ulama-ulama. Karena, tadi, tak ada niat sedikitpun karena tak ada bagian dari yang dipresepsikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Ustadz Rahmat Baequni menyampaikan kembali bahwa pihaknya mengajak umat untuk terus mewaspadai berbagai bentuk inovasi ideologi “konspirasi” masuk dari berbagai ranah kehidupan, termasuk di dunia arsitektur. Maka Ustadz Baekuni mengatakan bahwa pihaknya tidak akan pernah berhenti berdakwah, khususnya menyoal topik konspirasi tersebut, sebagai langkah waspada.

Ustaz Rahmat Baequni dalam ceramahnya menyebut desain Masjid Al Safar karya Ridwan Kamil dianggap mirip simbol illuminati. Baequni membantah pesannya itu dilakukan untuk menyerang pribadi gubernur Jawa Barat itu.

“Tidak sama sekali, demi Allah sama sekali saya tidak berniat untuk menjatuhkan siapapun apalagi Pak Ridwan Kamil. Tadi saya sampaikan pada beliau, kita akan terbuka dan saya juga terbuka kepada siapapun. Ada muncul kalau beliau keturunan dajjal itu fitnah. Coba lihat dalam ceramah saya ada tidak kata-kata saya dalam ceramah itu,” kata Baequni usai menghadiri silaturahmi dan diskusi yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Jawa Barat di kawasan Pusdai Bandung, Senin (10/6).

Selama ini Baequni mengklaim sudah membahas berbagai simbol serupa yang ada di masjid bukan hanya Masjid Al Safar. Pembahasan terhadap bentuk masjid kali ini tidak ada hubungannya dengan menyudutkan seseorang termasuk Ridwan Kamil.

“Saya hanya menyampaikan bahwa ada sistem pemerintahan yang dibuat oleh mereka, yang dibahas dalam sistem ini akan jadi jebakan bagi siapapun bagi saya juga bisa siapapun termasuk Pak Ridwan Kamil. Maka kita sebagai seorang muslim berhati-hati dalam memandang hal itu semua,” ujarnya.

Pendakwah yang sering memberi ceramah bertema akhir zaman ini menyampaikan, dakwahnya bertujuan untuk mengingatkan soal ancaman Yahudi. Bahkan, kata dia, Yahudi akan segera mencapai yang diinginkannya di dunia ini.

“Yang perlu diwaspadai adalah invasi dari ideologi ini masuk dalam berbagai ranah. Salah satunya dalam bentuk arsitektur dan ini tidak akan berhenti sampai mereka (Yahudi) betul-betul berjaya,” katanya.

Sebagai fasilitator diskusi Ketua MUI Jawa Barat Rahmat Syafei, yang menjadi penengah dalam diskusi tersebut, berharap masyarakat dapat menerima argumen dari kedua pihak meski berbeda pandangan. Dia pun mengingatkan betapa pentingnya tabayun atau meminta konfirmasi.

“Jadi pertemuan ini adalah dalam rangka mempererat persaudaraan, menjaga dan meningkatkan persatuan,” katanya.

“Jangan sampai hasil karya orang yang niatnya begitu baik. Tapi ada kekhawatiran, ini yang selanjutnya dikaji sejauh mana hal ini merusak keimanan,” lanjutnya (Red/BS)

About admin