Home / Regional / Bogor / TGB : Jangan Sampai Perbedaan Pandangan Mempolarisasi Mahasiswa

TGB : Jangan Sampai Perbedaan Pandangan Mempolarisasi Mahasiswa

BOGOR-Muhammad Zainul Majdi atau pria yang dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB) menghadiri kegiatan Dialog Keumatan dan Kebangsaan dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diikuit ratusan mahasiswa Bogor.

TGB mengatakan benang merah yang ia bahas pada forum tersebut salah satunya menyatakan perbedaan pandangan tidak boleh menjauhkan diri sebagai anak bangsa. Pendiri Wasathiyah Center itu juga mengungkapkan khilafah bukan termasuk dalam pokok-pokok keimanan atau pokok-pokok keyakinan sehingga tidak berkaitan dengan keimanan bahwa tidak boleh menjudge seseorang berdasarkan pada pandangan terhadap masalah itu.

“Karena itu apa yang sudah menjadi kesepakatan kita sebagai bangsa membentuk negara bangsa yang dinamakan NKRI ini adalah kesepakatan yang wajib kita jaga karena ini merupakan wadah yang menyatukan kita dan dengan wadah ini maka semangat keberagamaan dan kebangsaan dapat terwadahi dengan baik,” katanya usai kegiatan berlangsung, Senin (12/03/2019).

Ia juga menyampaikan pada para mahasiswa bahwa fasilitas berislam atau beragama di Indonesia ini luar biasa jadi bisa menjalankan kewajiban-kewajiban agama dengan sebaik-baiknya, artinya wadah Indonesia ini cukup untuk menjadi tempat melaksanakan ajaran-ajaran yang baik.

“Perlu kita juga melihat perjalanan atau pengalaman banyak bangsa lain ketika wadah nya rusak maka seluruh daya pembangunan dan daya kemajuan bangsa menjadi hancur. contohnya di negara-negara Timur Tengah dan banyak di negara lain juga, kita di Indonesia bersyukur mempunyai wadah yang harus kita jaga,” ungkapnya.

Kemudian, TGB berharap agar mahasiswa jangan terpolarisasi, karena menurutnya belajar dari banyak masyarakat atau bangsa yang lain bahwa sekarang itu era kolaborasi.

“Kita boleh berbeda pandangan dan berbeda pendapat satu atau lebih tapi kita harus selalu membangun kolaborasi jejaring kebaikan jadi jangan sampai perbedaan pandangan itu mempolarisasi mahasiswa sehingga mereka tidak bisa membangun jalur-jalur silaturahim satu sama lain,” pungkasnya.

(SM/ON)

Komentar