Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Pencipta (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah melalui klasifikasi yang presisi guna membentengi akidah umat dari pemahaman tasybih (penyerupaan) maupun ta’thil (peniadaan). Sifat-sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konklusi rasional yang didukung sepenuhnya oleh wahyu yang bersifat qath’i. Memahami sifat-sifat ini berarti menyelami hakikat ketuhanan yang Maha Sempurna, yang terlepas dari segala kekurangan dan keterbatasan makhluk.

Sifat yang pertama dan paling mendasar adalah Sifat Nafsiyyah, yaitu Wujud. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan akal yang tidak membutuhkan dalil lain di luar Dzat-Nya untuk membuktikan eksistensi-Nya. Allah adalah Wajib al-Wujud, Dzat yang keberadaan-Nya bersifat mutlak dan menjadi sebab bagi keberadaan seluruh alam semesta. Tanpa adanya Wujud yang bersifat azali, maka mustahil rangkaian penciptaan ini dapat terjadi.

أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى بِصِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهُ وَمِنْهَا الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ إِبْرَاهِيمَ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَالْوُجُودُ ثَابِتٌ لَهُ سُبْحَانَهُ بِالضَّرُورَةِ الْعَقْلِيَّةِ وَالنَّقْلِيَّةِ

Sumber: Muslimchannel