JABARONLINE.COM - Musim Kejuaraan Dunia Formula Satu (F1) tahun 2026 kini menghadapi potensi pemangkasan signifikan dalam jumlah seri balapan yang telah direncanakan sebelumnya. Situasi geopolitik yang memburuk di kawasan Timur Tengah menjadi sumber utama kekhawatiran bagi penyelenggara.
Kekhawatiran ini mencuat menyusul adanya peningkatan ketegangan dan konflik yang melibatkan Iran, yang secara langsung mengancam keamanan penyelenggaraan dua seri penting di kawasan Teluk. Skala musim balap diproyeksikan menyusut dari rencana awal menjadi hanya 22 putaran saja.
Sebuah sumber anonim yang memiliki kedekatan dengan lingkungan paddock F1 memberikan informasi mengenai situasi genting ini. Sumber tersebut menegaskan bahwa pembatalan gelaran di Timur Tengah sangat mungkin terjadi jika eskalasi konflik terus berlanjut.
Tantangan Berat Hadapi Real Madrid, Guardiola Tekankan Pentingnya Kesempurnaan Manchester City
"Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi sulit untuk dicarikan jadwal pengganti jika pembatalan benar-benar terjadi akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah akibat perang Iran," ungkap sumber senior tersebut, memberikan indikasi bahwa mencari slot alternatif bukanlah opsi yang mudah.
Awalnya, badan pengelola F1 telah menetapkan kalender ambisius yang terdiri dari 24 putaran untuk gelaran tahun 2026 mendatang. Jumlah ini seharusnya menjadi rekor tersendiri dalam sejarah olahraga balap jet darat tersebut.
Namun, realitas keamanan yang tidak menentu memaksa pihak terkait untuk mempertimbangkan skenario yang paling realistis, yaitu pengurangan jumlah seri balapan. Keamanan pembalap dan kru menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan ini.
Balapan di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir, dijadwalkan untuk digelar pada tanggal 12 April 2026. Seri ini seharusnya menjadi salah satu momentum penting di paruh awal musim kompetisi.
Seri tersebut rencananya akan segera diikuti oleh Grand Prix Jeddah di Arab Saudi, yang dijadwalkan berlangsung persis pada pekan berikutnya. Kedua acara ini kini berada di bawah bayang-bayang pembatalan total.
Kondisi ini memaksa tim dan pemangku kepentingan F1 untuk mulai menyusun rencana mitigasi risiko, terutama terkait logistik dan kontrak komersial yang sudah terjalin dengan promotor di kedua negara tersebut, dilansir dari Beritasatu.com.
