JABARONLINE.COM tidak hanya menjadi ajang pameran buku, tetapi juga ruang inspiratif untuk berbagi pengalaman dalam dunia kepenulisan. Salah satu rangkaian acara yang mencuri perhatian adalah diskusi bertajuk “Suka Duka Menjadi Penulis: Penulis Lepas VS Penulis Komunitas” yang digelar di IPB Convention Center pada Jumat (27/3/2026).

Acara ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni Miranti, seorang penulis lepas dari penerbit Lindan Bestari, dan Fatimah, perwakilan dari Komunitas Bogor Book Party. Diskusi yang berlangsung hangat tersebut dipadati oleh peserta yang antusias menggali lebih dalam mengenai seluk-beluk dunia literasi.

Kegiatan dibuka dengan penampilan apik dari Senandung Mubarock yang membawakan lagu orisinal berjudul “Masa Kecil”. Suasana semakin syahdu saat Nyanyian Diksatrasia naik ke atas panggung sebagai penampil kedua dengan membawakan lagu berjudul “Pulang”.

Dalam sesi diskusi, Miranti membagikan kisah personalnya mengenai peran menulis dalam kehidupannya. Bagi Miranti, menulis bukan sekadar hobi atau profesi, melainkan sarana terapi.

“Menulis adalah sarana terapi, terlebih saya adalah seorang penyintas bipolar,” ungkap Miranti. Ia menjelaskan bahwa bukunya yang berjudul Sawang Sinawang merupakan buah dari proses terapi menulis yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa lalu.

Di sisi lain, Fatimah memberikan sudut pandang mengenai pentingnya ekosistem dalam berkarya. Menurutnya, bergabung dengan komunitas dapat memberikan dorongan moral dan semangat konsistensi bagi seorang penulis.

“Bergabung di komunitas bisa membuat motivasi menulis menjadi lebih kuat,” ujar Fatimah.

Bukti nyata dari produktivitas berbasis komunitas ini ditunjukkan oleh Bogor Book Party yang telah berhasil menerbitkan dua karya kolektif. Buku tersebut adalah Festival Buitenzorg Vol. 1 yang berisi kumpulan cerpen anggota komunitas, serta Festival Buitenzorg Vol. 2 yang merupakan antologi puisi bersama.

Bogor Book Fair 2026 sendiri berlangsung selama enam hari, mulai dari 24 Maret hingga 29 Maret 2026. Melalui kegiatan ini, Bogor diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota hujan secara geografis, tetapi juga menjadi pusat "Hujan Literasi" dan "Hujan Buku" yang memberikan dampak positif bagi perkembangan intelektual masyarakat.***