JABARONLINE.COM, Jakarta, – Perum Bulog menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional melalui penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk meredam fluktuasi harga sekaligus menjamin pemerataan akses pangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari mandat Badan Pangan Nasional (Bapanas). Berdasarkan Surat Kepala Bapanas Nomor 204/TS.03.03/K/2/2026, Bulog ditugaskan mendistribusikan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dengan target total 828.000 ton pada tahun ini.
“Total SPHP tahun ini mencapai 828 ribu ton yang harus kami salurkan sesuai penugasan,” ujar Rizal dalam keterangannya, Sabtu (4/4/2026).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pola distribusi SPHP pada 2026 mengalami transformasi signifikan. Jika sebelumnya penyaluran cenderung mengikuti siklus panen, kini distribusi dilakukan secara konsisten tanpa jeda sepanjang tahun. Pendekatan ini diyakini efektif untuk menutup celah spekulasi harga di tingkat konsumen serta menjaga stabilitas pasar dengan lebih terjaga.
Penyaluran beras SPHP dilakukan melalui berbagai kanal strategis, mulai dari pasar tradisional hingga jaringan koperasi seperti Kopdes Merah Putih di tingkat desa dan kelurahan. Selain itu, Bulog memperluas jangkauan melalui 80.000 titik ritel yang mencakup jaringan Rumah Pangan Kita (RPK), outlet binaan pemerintah daerah, hingga swalayan modern.
Dari sisi kualitas, beras yang disalurkan merupakan beras kualitas medium dengan standar ketat, yakni kadar air maksimal 14 persen dan tingkat pecahan sekitar 25 persen. Untuk meningkatkan keterjangkauan daya beli masyarakat, Bulog juga menyediakan kemasan yang lebih fleksibel, mulai dari ukuran 2 kilogram hingga 5 kilogram.
Terkait harga, Bulog tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan berdasarkan tiga zona wilayah:
- Zona 1 (Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Lampung, Sumsel): Rp12.500/kg
- Zona 2 (Kalimantan, NTT, Sumatra lainnya): Rp13.100/kg
- Zona 3 (Maluku dan Papua): Rp13.500/kg
Meskipun distribusi dilakukan lebih intensif, target penyaluran tahun 2026 sebesar 828.000 ton tercatat menurun dibandingkan target 2025 yang mencapai 1,5 juta ton. Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi distribusi periode sebelumnya. Sebagai informasi, pada periode Januari hingga Februari 2026, Bulog telah menuntaskan penyaluran sisa kuota tahun lalu dengan realisasi mencapai 802.939 ton.
Langkah penyesuaian target ini dinilai sebagai strategi untuk memastikan distribusi tepat sasaran tanpa mengganggu stabilitas harga di tingkat petani, terutama saat memasuki masa panen raya. Melalui pola distribusi baru yang lebih konsisten, Bulog optimistis stabilitas harga beras dapat terjaga sepanjang tahun sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.(AS/JO).
