Era modern telah menggeser pusat syiar agama dari ruang fisik ke dalam genggaman layar ponsel pintar. Kini, pesan-pesan dakwah harus bersaing ketat dengan jutaan konten hiburan yang seringkali melalaikan hati. Generasi Z sebagai penduduk asli dunia digital memegang peran kunci sekaligus menghadapi tantangan iman yang semakin kompleks.

Akses terhadap ilmu agama saat ini memang melimpah ruah, namun kemudahan tersebut membawa risiko pendangkalan makna. Banyak pemuda yang terjebak dalam arus algoritma yang lebih mengutamakan sensasi visual daripada substansi kebenaran yang hakiki. Tanpa filter yang kuat, nilai-nilai adab dalam menuntut ilmu perlahan mulai terkikis oleh interaksi media sosial yang liar.

Pentingnya memverifikasi setiap informasi yang masuk agar tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat digital. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan panduan tegas mengenai hal ini dalam firman-Nya agar umat tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Perintah ini menjadi landasan utama bagi setiap Muslim dalam menyikapi derasnya arus berita di media sosial saat ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

Para ulama senantiasa menekankan pentingnya bimbingan guru yang otoritatif dalam mempelajari syariat Islam secara kaffah. Belajar agama secara autodidak melalui potongan video tanpa sanad ilmu yang jelas dapat membahayakan konstruksi pemikiran seorang mukmin. Kehadiran sosok pembimbing spiritual sangat dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas berbagai persoalan di tengah banjir informasi digital yang membingungkan.

Generasi Z perlu melatih diri untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten yang pasif dan mudah terbawa emosi. Mulailah dengan memilih sumber rujukan yang kredibel serta tetap menjaga etika Islami saat berkomentar di ruang publik digital. Menghidupkan kembali budaya membaca literatur yang mendalam akan sangat membantu dalam mengimbangi kecepatan arus informasi yang serba instan.

Dakwah di era algoritma bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, melainkan tentang bagaimana menyajikan cahaya tersebut dengan penuh hikmah. Mari kita jadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas takwa, bukan justru menjadi penyebab hilangnya keberkahan ilmu. Semoga iman kita tetap teguh dan terjaga meski berada di tengah pusaran dunia maya yang penuh dengan ketidakpastian.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/menavigasi-iman-di-rimba-algoritma-tantangan-dakwah-bagi-generasi-z