Mata uang rupiah menunjukkan performa gemilang pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (23/2/2026). Pergerakan positif tersebut membawa angin segar bagi pasar keuangan domestik di tengah fluktuasi ekonomi global yang dinamis. Penguatan nilai tukar ini terjadi seiring dengan membaiknya optimisme para pelaku pasar di berbagai belahan dunia.
Mengacu pada data pasar spot Bloomberg pukul 09.22 WIB, mata uang Garuda tercatat terapresiasi signifikan sebesar 41 poin. Lonjakan ini setara dengan kenaikan 0,24 persen yang membawa posisi rupiah ke level Rp 16.847 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut mencerminkan pemulihan daya saing rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam di awal sesi.
Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau mengalami tekanan yang cukup dalam pada waktu yang bersamaan. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama itu merosot 0,38 persen ke posisi 97,42. Pelemahan indeks dolar ini menjadi faktor pendorong eksternal utama bagi penguatan nilai tukar di pasar negara berkembang.
Sentimen global diketahui mulai membaik setelah adanya kepastian hukum terkait kebijakan perdagangan di Amerika Serikat. Putusan terbaru dari Mahkamah Agung AS mengenai kebijakan tarif Presiden Donald Trump memberikan titik terang bagi para investor. Langkah hukum ini secara efektif meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi perang dagang yang lebih luas.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi aset-aset berisiko untuk kembali dilirik oleh para pemodal internasional. Rupiah menjadi salah satu instrumen keuangan yang mendapatkan manfaat langsung dari pergeseran aliran modal masuk tersebut. Stabilitas nilai tukar diharapkan dapat terus terjaga guna mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.
Hingga pertengahan pagi, aktivitas transaksi di pasar valuta asing masih menunjukkan dominasi aksi beli terhadap mata uang rupiah. Para analis kini memantau dengan cermat bagaimana dinamika politik di Washington memengaruhi arah kebijakan fiskal Amerika Serikat selanjutnya. Perkembangan ini terus menjadi fokus utama bagi para pelaku pasar di Jakarta maupun pusat keuangan global lainnya.
Secara keseluruhan, awal perdagangan pekan ini memberikan sinyal yang cukup positif bagi penguatan mata uang rupiah lebih lanjut. Meski demikian, kewaspadaan terhadap volatilitas pasar tetap diperlukan mengingat dinamika geopolitik internasional yang masih sangat cair. Investor kini menanti data ekonomi lanjutan untuk menentukan strategi investasi mereka di sisa hari perdagangan.
Sumber: Beritasatu
