BOGOR – Dentuman bedug kembali menggema di langit Babakan Doneng, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Perhelatan budaya tahunan bertajuk Festival Rampak Bedug Doneng Cup ke-29 resmi mencapai puncaknya pada Selasa (24/3/2026) malam dengan meriah.

Tradisi yang berlokasi di kawasan sekitar kampus IPB University ini telah mengakar selama puluhan tahun. Selain menampilkan keindahan seni tabuhan bedug, ajang ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga serta komunitas seni dari berbagai daerah. Festival ini rutin diselenggarakan setiap bulan Syawal oleh Sub Karang Taruna Babakan Doneng sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan warisan budaya leluhur.

Pada tahun ini, rangkaian kompetisi berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Maret 2026. Sebanyak delapan grup peserta bersaing ketat di babak penyisihan hingga menyisakan empat grup terbaik yang melaju ke babak final. Keempat finalis tersebut adalah Darul Huda (Cibanteng), Batara Karang (Cinangneng), Incu Abah (Lewi Kopo), dan Sadudulur (Babakan Doneng) yang bertindak sebagai tuan rumah.

Di babak final, setiap grup menunjukkan kreativitas, kekompakan, dan teknik tabuhan yang memukau. Penampilan para peserta tidak hanya menghibur ratusan penonton yang memadati lokasi, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi.

Ketua Panitia Festival Rampak Bedug Doneng Cup ke-29, Romadhona, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara tersebut. Ia menegaskan bahwa festival ini merupakan agenda penting bagi masyarakat setempat pada momen Syawal 1447-1448 H.

“Tujuan utama kami adalah melestarikan budaya leluhur sekaligus menjadikan festival ini sebagai ajang silaturahmi antardesa. Alhamdulillah, peserta datang dari berbagai daerah dan semangat kebersamaan yang terjalin sungguh luar biasa,” ujar Romadhona. Ia juga berharap agar ke depannya festival ini dapat terus dikembangkan ke tingkat yang lebih luas dan semakin dikenal masyarakat.

Apresiasi senada disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Abi Rahmat. Ia mendorong agar kegiatan ini terus dijaga secara konsisten oleh generasi muda.

“Saya sangat mengapresiasi semangat pemuda Babakan Doneng dalam menjaga tradisi rampak bedug. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat identitas budaya dan persaudaraan. Saya berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan perhatian lebih agar festival ini menjadi agenda budaya yang lebih besar,” tutur Abi Rahmat.

Secara filosofis, festival rampak bedug merupakan simbol identitas lokal yang mengajarkan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap sejarah. Melalui ajang ini, generasi muda didorong untuk menjadi pelaku aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Perpaduan ritme bedug dan antusiasme penonton pada malam penutupan menegaskan bahwa budaya lokal tetap relevan dan lestari di era modern.