JABARONLINE.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan sebagai tonggak besar dalam upaya memutus rantai stunting nasional kini berada di bawah sorotan tajam. Ketua Dewan Pimpinan Daerah LSM KPK RI Provinsi Jawa Barat, Januardi Manurung, menilai implementasi program tersebut di sejumlah daerah menunjukkan indikasi penyimpangan serius.
Dalam keterangannya Januardi Manurung menyebut anggaran jumbo yang dikucurkan, disebutnya mencapai Rp223 triliun diambil dari pos anggaran pendidikan APBN 2026, diduga tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas makanan yang diterima siswa.
“Program MBG menyedot anggaran pendidikan sebesar Rp223 triliun ini, namun dalam implementasinya di berbagai daerah tidak lagi menitikberatkan pada standar nutrisi 4 sehat 5 sempurna, melainkan pada maksimalisasi keuntungan dengan mengurangi kualitas bahan pangan,” ujar Januardi Manurung Dalam keterangannya kepada wartawan di Karawang, Rabu (25/2/2026).
Dugaan Penyimpangan Sistemik
Berdasarkan hasil investigasi internal LSM KPK RI Jabar, ditemukan pola yang disebut seragam di sejumlah titik distribusi. Salah satu temuan yang disorot adalah dugaan mark-up harga bahan baku, terutama protein hewani, yang dilaporkan melonjak hingga 30 persen di atas harga pasar dalam dokumen pertanggungjawaban.
Tak hanya soal harga, kualitas pangan pun dipertanyakan. Alih-alih memperoleh daging segar, sejumlah siswa disebut menerima produk olahan rendah nutrisi dengan kadar pengawet tinggi. Praktik ini diduga dilakukan untuk menekan ongkos produksi dan menjaga margin keuntungan.
Selain itu, penunjukan penyedia jasa katering juga menjadi perhatian. Sejumlah vendor disebut terindikasi memiliki afiliasi dengan oknum pengambil kebijakan lokal, tanpa proses tender yang transparan. Situasi ini dinilai berpotensi menciptakan monopoli dan menutup ruang kompetisi sehat.
“MBG kini bukan lagi soal protein untuk otak anak, tapi soal berapa persen komisi yang bisa masuk ke kantong oknum. Jika ini dibiarkan, kita bukan sedang mencetak generasi emas, tapi sedang menumpuk utang untuk memberi makan para koruptor,” tegasnya.
Hanya 60 Persen Sampai ke Piring?
