JABARONLINE.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengumumkan rencana distribusi motor listrik senilai Rp 42 juta untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kendaraan ini dialokasikan untuk mendukung operasional di wilayah-wilayah yang memiliki akses sulit.
"Iya akan kita distribusikan nanti untuk operasional seluruh orang yang ada di SPPG, terutama untuk di daerah-daerah yang sulit," kata Dadan di Jakarta, Rabu (8/4/2026), dilansir dari detikNews Minggu (12/4/2026).
BGN berencana membeli sebanyak 21.800 unit motor listrik tersebut, yang jika dikalkulasi dengan harga Rp 42 juta per unit, total anggarannya mencapai Rp 915 miliar. Pengadaan ini disebut telah dianggarkan pada tahun 2025 lalu, dan tidak ada lagi anggaran untuk pembelian serupa di tahun 2026.
Motor listrik yang dimaksud adalah Emmo JVX GT berdesain motor trail, meskipun jenis skuter Emmo JVH Max juga disebutkan dalam konteks ini. Namun, Dadan menegaskan harga yang disepakati untuk pengadaan adalah Rp 42 juta per unit.
"Ia menyebut harganya lebih murah Rp 10 juta dari harga di pasarnya yang sebesar Rp 52 juta," demikian keterangan yang disampaikan mengenai perbedaan harga pasar dan harga beli pemerintah.
Kabar pengadaan kendaraan mahal ini menimbulkan kontroversi, terutama ketika disandingkan dengan berbagai kisah kesulitan para pendidik. Banyak ditemukan kasus di mana guru dan murid harus menempuh perjalanan ekstrem untuk mencapai sekolah.
Beberapa bulan sebelum kabar ini mencuat, terdapat kisah seorang guru di Pandeglang yang telah mengabdi 17 tahun harus melewati jalan rusak dan berlumpur. "Hampir 17 tahun saya mengabdi lewat sana (jalan rusak). Itu akses utama warga dan anak sekolah melintas karena tidak alternatif lain, mau kemana lagi," kata guru SDN Turus 5 bernama Apwan Munandar kepada detikcom, Selasa (11/11/2025) lalu, dilansir dari detikNews.
Apwan menjelaskan bahwa sekitar 2 km akses menuju sekolah dalam kondisi rusak parah, dengan 500 meter di antaranya berupa jalanan berlumpur. Hal ini menyebabkan seragam siswa sering kotor sebelum tiba di kelas.
"Pas ke sekolah kotor, berlumpur semua, kasihan, ini anak Indonesia, masih bangsa Indonesia, di mana keadilannya," imbuhnya.
