JABARONLINE.COM - Di tengah hiruk-pikuk era disrupsi yang serba cepat, manusia modern sering kali terjebak dalam labirin teknologi yang melalaikan. Pergeseran paradigma dari nilai-nilai transendental menuju pemujaan terhadap efisiensi dan materi telah menciptakan tantangan baru bagi keimanan seorang Muslim. Fenomena ini menuntut kita untuk menelaah kembali sejauh mana orientasi hidup kita benar-benar tertuju kepada Allah Swt., atau justru telah teralihkan oleh gemerlap dunia yang semu.

Esensi dari keberagamaan seorang Muslim terletak pada penyerahan diri secara totalitas kepada Sang Pencipta, tanpa ada celah bagi sekutu apa pun dalam hatinya. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah komitmen mendalam yang mengakar dalam setiap helaan napas dan tindakan nyata. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. yang menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan seorang hamba haruslah didedikasikan sepenuhnya hanya untuk-Nya, sebagaimana termaktub dalam ayat berikut:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (Muslim).'" (QS. Al-An'am: 162-163)

Ketergantungan mutlak pada logika rasionalistik tanpa melibatkan peran hidayah Allah juga menjadi ancaman serius di era kecerdasan buatan ini. Manusia cenderung merasa sombong dengan pencapaian teknologinya sehingga merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan wahyu dalam menata kehidupan sosial dan moralnya. Padahal, tanpa cahaya tauhid, kecanggihan teknologi hanya akan melahirkan kekosongan spiritual yang berujung pada depresi dan hilangnya makna hidup yang hakiki.

Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan keras bagi mereka yang hatinya telah terbelenggu oleh kecintaan pada dunia secara berlebihan. Beliau menggambarkan betapa celakanya seseorang yang menjadikan harta benda sebagai orientasi utama dalam hidupnya, melebihi kecintaannya kepada Sang Khalik. Hal ini tertuang dalam sebuah hadits yang sangat mendalam maknanya bagi kita semua:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Terjemahan: "Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian (perhiasan). Jika diberi ia senang, jika tidak diberi ia marah. Celakalah ia dan tersungkurlah, dan jika ia terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya." (HR. Bukhari)

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya ketika para ilmuwannya memiliki fondasi tauhid yang kokoh, sehingga penemuan mereka selalu bermuara pada kemaslahatan umat. Sebaliknya, ketika tauhid mulai luntur dan digantikan oleh materialisme, peradaban tersebut perlahan akan mengalami dekadensi moral. Oleh karena itu, penguatan literasi tauhid di lembaga pendidikan dan keluarga menjadi benteng terakhir yang harus kita pertahankan dengan segenap kekuatan.

Allah Swt. memberikan perumpamaan yang indah mengenai kalimat tauhid (kalimat tayyibah) sebagai sebuah pohon yang akar-akarnya menghujam kuat ke bumi dan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit. Pohon tersebut senantiasa memberikan manfaat di setiap musim dengan izin Tuhannya, sebuah gambaran bagi seorang mukmin yang kokoh akidahnya namun sangat luas manfaat sosialnya. Perumpamaan ini dijelaskan secara gamblang dalam Al-Quran:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemahan: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim: 24-25)