Literasi digital kini menjadi instrumen krusial dalam menjaga kondusivitas ruang publik di tengah dinamika politik yang semakin kompleks. Masyarakat dituntut untuk lebih kritis dalam menyaring informasi agar tidak terjebak dalam arus polarisasi yang merugikan.
Penyebaran berita bohong atau hoaks seringkali menjadi ancaman serius bagi persatuan bangsa dan integritas proses demokrasi. Pemerintah bersama berbagai elemen sipil terus berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai etika berkomunikasi di dunia maya.
Transformasi teknologi informasi telah mengubah cara warga negara berinteraksi dengan kebijakan publik serta aktor politik. Ruang digital yang sehat akan mendorong terciptanya diskusi yang konstruktif dan berbasis pada data faktual.
Pengamat sosial menekankan bahwa kecerdasan digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan juga kedewasaan dalam berpendapat. Hal ini sangat penting untuk mencegah gesekan sosial yang dipicu oleh sentimen negatif di media sosial.
Dampak dari rendahnya literasi digital dapat memicu ketidakpercayaan publik terhadap institusi negara dan merusak tatanan sosial. Sebaliknya, masyarakat yang teredukasi akan menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi kampanye hitam.
Berbagai program edukasi kini mulai menyasar generasi muda sebagai kelompok yang paling aktif dalam menggunakan platform digital. Kolaborasi antara sektor pendidikan dan teknologi diharapkan mampu menciptakan ekosistem politik yang lebih transparan.
Kesadaran kolektif untuk memverifikasi setiap informasi merupakan langkah kecil yang berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Mari kita wujudkan demokrasi yang sehat dengan menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan bertanggung jawab.
.png)
.png)
