JABARONLINE.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti persepsi negatif yang masih melekat pada mata pelajaran matematika di Indonesia. Menurutnya, subjek ini seringkali dianggap sebagai tantangan berat yang menimbulkan ketakutan bagi sebagian besar siswa.
Persepsi ini bukan tanpa dampak, sebab kesulitan yang dialami siswa pada jenjang pendidikan awal cenderung terbawa hingga ke tingkat selanjutnya. Hal ini menciptakan siklus kesulitan belajar yang berkelanjutan dalam pemahaman konsep matematika.
Abdul Mu'ti mengemukakan sebuah korelasi ironis yang sering terdengar di kalangan pelajar terkait mata pelajaran ini. Ia mencatat bahwa kata 'math' (matematika) kerap kali disamakan dengan kata 'death' (kematian) dalam konteks suasana belajar.
Persepsi negatif ini diperkuat dengan istilah populer yang digunakan siswa untuk menggambarkan betapa sulitnya materi tersebut. Hal ini menunjukkan adanya resistensi psikologis yang tinggi terhadap pembelajaran matematika.
"Kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika di masa awal itu akan berdampak terus dalam jenjang berikutnya," kata Mu'ti. Pernyataan ini disampaikan saat ia mengamati akar masalah dari ketakutan terhadap matematika, dilansir dari Kemendikdasmen.
Ia melanjutkan pandangannya mengenai stereotip yang berkembang di lingkungan sekolah. "Sehingga ada istilah 'math' itu identik dengan 'death'," tambah Mu'ti, menggarisbawahi kesamaan bunyi yang memperkuat asosiasi negatif tersebut.
Lebih lanjut, Mu'ti juga menyinggung frasa lain yang menggambarkan upaya keras siswa dalam menghadapi subjek ini. "Sampai ada yang bilang matematika itu pelajaran 'mati-matian'. Pelajarannya apa? 'Mati-matian'," kata Mu'ti.
Pernyataan penting ini disampaikan oleh Mendikdasmen pada hari Kamis, 9 April 2026. Lokasi penyampaiannya adalah di Gedung A Kemendikdasmen, yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Analisis ini mengindikasikan perlunya pendekatan pedagogis baru untuk mengubah citra matematika dari momok menjadi subjek yang menyenangkan dan mudah diakses oleh semua siswa sejak dini.
