Jagat digital saat ini sering kali menjadi arena perdebatan panas yang melupakan nilai-nilai kesantunan. Batas antara diskusi ilmiah dan caci maki menjadi semakin kabur akibat dominasi ego pribadi di ruang publik. Kita perlu menyadari bahwa memenangkan argumen bukanlah segalanya jika harus mengorbankan ikatan persaudaraan yang suci.
Perbedaan pendapat sebenarnya adalah sebuah keniscayaan dan rahmat dari Allah yang memperkaya perspektif hidup manusia. Namun, fenomena hari ini menunjukkan adanya krisis adab yang mendalam dalam berinteraksi dan bertukar pikiran. Sikap merasa paling benar sering kali menutup pintu hati untuk menghargai pemikiran orang lain secara objektif.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan panduan agung dalam berdakwah dan bertukar pikiran melalui petunjuk Al-Qur'an. Prinsip ini menekankan pentingnya hikmah dan tutur kata yang baik saat menghadapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Berikut adalah firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Terjemahan: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125)
Para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan nyata dalam menyikapi perbedaan ijtihad dengan penuh rasa hormat. Imam Syafi'i pernah berpesan bahwa pendapat beliau benar namun mengandung kemungkinan salah, begitupun sebaliknya terhadap pendapat orang lain. Sikap tawadhu seperti inilah yang mampu menjaga keharmonisan umat meskipun terdapat keragaman mazhab dan pemikiran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus membiasakan diri untuk mendengarkan lebih banyak sebelum terburu-buru menghakimi orang lain. Hindarilah perdebatan kusir di media sosial yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan martabat sesama Muslim tanpa dasar ilmu. Mari kita kedepankan rasa hormat dan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam setiap bentuk interaksi sosial kita.
Mengembalikan adab dalam berpendapat adalah langkah krusial untuk memulihkan kesehatan mental dan sosial masyarakat kita saat ini. Persatuan umat yang kokoh hanya akan terwujud jika setiap individu mampu menekan ego demi kemaslahatan yang lebih besar. Semoga kita senantiasa dibimbing Allah untuk menjadi pribadi yang santun dalam menjaga ukhuwah islamiyah selamanya.
Sumber: muslimchannel
.png)
.png)
