JABARONLINE.COM - Fenomena *burnout* dan kelelahan mental kini telah menjadi tantangan nyata bagi masyarakat modern, terutama generasi muda yang hidup di bawah bayang-bayang *hustle culture*. Tekanan untuk terus produktif, mengejar target karier yang ambisius, serta paparan tiada henti terhadap pencapaian orang lain di media sosial sering kali menciptakan ruang hampa dalam jiwa. Tanpa disadari, kita sering kali terjebak dalam perlombaan duniawi yang melelahkan fisik dan mengeringkan spiritualitas, seolah-olah keberhasilan hanya diukur dari angka dan pengakuan manusia semata.
Sebagai hamba Allah, kita perlu menyadari bahwa kegelisahan hati yang berujung pada stres berat sering kali merupakan sinyal bahwa jiwa kita sedang merindukan sumber ketenangan yang hakiki. Islam tidak melarang kita untuk bekerja keras, namun Islam sangat menekankan pentingnya menjaga harmoni antara ikhtiar lahiriah dan kedamaian batiniah. Langkah awal untuk menyembuhkan luka mental ini adalah dengan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Hati, karena hanya di tangan-Nya segala kegaduhan pikiran dapat ditenangkan.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Terjemahan: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Memahami batasan diri adalah bentuk kearifan spiritual yang akan membebaskan kita dari beban ekspektasi yang tidak realistis. Ketika kita merasa lelah, beristirahat bukanlah sebuah dosa atau tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk syukur atas nikmat tubuh yang perlu dirawat. Allah SWT telah memberikan jaminan yang sangat menenangkan dalam firman-Nya mengenai beban hidup yang kita pikul setiap harinya.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir"." (QS. Al-Baqarah: 286)
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang sangat menyentuh hati memberikan penghiburan bagi siapa saja yang merasa tertekan oleh beban dunia. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada satu pun keletihan yang menimpa seorang Muslim kecuali Allah menjadikannya sebagai penebus kesalahan. Keyakinan inilah yang seharusnya membuat kita tetap tegar dan tidak berputus asa di tengah badai ujian hidup yang datang bertubi-tubi.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Terjemahan: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan jika itu hanya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Prinsip ini sangat jelas digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai pedoman bagi setiap Muslim modern agar tidak terjebak dalam ambisi duniawi yang membutakan. Kita diperintahkan untuk mencari karunia Allah di dunia ini, namun tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dan senantiasa berbuat baik kepada sesama serta alam semesta. Dengan visi yang jelas ini, orientasi hidup kita akan bergeser dari sekadar "mengejar materi" menjadi "mencari keberk
Sumber: Muslimchannel
