JABARONLINE.COM - Di era digital yang serba cepat ini, layar ponsel sering kali menjadi jendela yang menampilkan gemerlap kehidupan orang lain secara konstan. Fenomena *Fear of Missing Out* (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal dari tren dan pencapaian sesama, telah menjadi beban psikologis yang berat bagi generasi masa kini. Kita sering kali terjebak dalam pusaran perbandingan, di mana kebahagiaan diukur dari seberapa estetik unggahan seseorang atau seberapa cepat mereka meraih kesuksesan material. Namun, sebagai seorang mukmin, kita harus menyadari bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang penuh dengan tipu daya jika tidak disikapi dengan iman yang kokoh.
Sejatinya, Al-Qur'an telah memberikan peringatan yang sangat mendalam mengenai hakikat kehidupan dunia yang sering kali membuat manusia berlomba-lomba dalam kemegahan semu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20 untuk mengingatkan kita agar tidak terpedaya oleh kompetisi duniawi yang melalaikan:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Terjemahan: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid: 20)
Salah satu obat paling mujarab untuk mengatasi penyakit hati akibat FOMO adalah dengan mempraktikkan sifat *qana'ah* atau merasa cukup dengan apa yang ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan praktis agar kita senantiasa bersyukur dan tidak merasa kecil hati di hadapan kemewahan orang lain. Beliau mengajarkan kita untuk mengubah arah pandang kita dari atas ke bawah dalam urusan duniawi, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Terjemahan: Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian. (HR. Muslim no. 2963)
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan Dia tidak akan pernah memberikan ujian yang melampaui kekuatan kita. Prinsip ini adalah fondasi kesehatan mental bagi seorang muslim, di mana kita meyakini bahwa setiap kesulitan selalu dibarengi dengan kemudahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan hal ini dalam penutup Surah Al-Baqarah yang menjadi sandaran bagi setiap jiwa yang sedang merasa lelah:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Terjemahan: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286)
Ketenangan hati adalah anugerah terbesar yang bisa diraih manusia di tengah hiruk-pikuk dunia. Dengan mengingat Allah, segala kegelisahan akan masa depan dan rasa tertinggal dari orang lain akan sirna, berganti dengan rasa syukur yang mendalam. Mari kita resapi janji Allah dalam firman-Nya yang menyejukkan hati:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Terjemahan: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
