JABARONLINE.COM - Ilmu Tauhid atau yang sering disebut sebagai *Ma’rifatullah* merupakan mercusuar utama yang menuntun perjalanan spiritual seorang Muslim di tengah samudra kehidupan. Tanpa pemahaman yang jernih dan lurus mengenai hakikat Tuhan yang disembah, seluruh amal ibadah seorang hamba berisiko kehilangan orientasi teologisnya yang paling mendasar. Mengenal Allah bukan sekadar mengetahui nama-Nya, melainkan menyelami sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang mutlak agar keimanan tidak goyah oleh syubhat dan keraguan zaman.
Fondasi keimanan ini bermula dari kesadaran bahwa Allah Swt adalah satu-satunya entitas yang berhak disembah dengan segala keagungan-Nya. Para ulama menegaskan bahwa kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah mengenal Allah (*Awwalu wajibin 'alal insani ma'rifatullahi bi tsiqoti bayani*). Hal ini selaras dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur'an yang menegaskan identitas ketuhanan-Nya secara gamblang agar manusia memiliki pegangan yang kokoh dalam bertauhid.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي . إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى
Terjemahan: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan." (QS. Thaha: 14-15)
Analisis ini dimulai dengan Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri, yakni *Wujud* (Ada). Secara ontologis, keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan (*Wajib al-Wujud*), yang artinya akal sehat tidak dapat menerima jika Allah itu tidak ada. Berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (*Mumkin al-Wujud*), keberadaan Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh kebinasaan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan: "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid: 3-4)
Lebih jauh lagi, pendalaman terhadap sifat-sifat Allah seperti *Iradah* (Berkehendak) dan *Qudrah* (Kuasa) menuntun kita pada sikap tawakal yang paripurna. Seorang hamba yang mengenal Tuhannya dengan baik akan memahami bahwa tidak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa izin-Nya. Kesadaran ini menciptakan ketenangan batin (*ithmi'nan*) yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun di dunia ini, karena ia merasa selalu berada dalam pengawasan dan perlindungan Dzat Yang Maha Hidup.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Baqarah: 255)
Sebagai kesimpulan, perjalanan mengenal Allah adalah tugas seumur hidup yang menjadi kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Sifat-sifat wajib bagi Allah Swt adalah pintu masuk untuk merasakan keagungan-Nya dalam setiap denyut nadi kehidupan. Mari kita terus memperdalam pemahaman akidah ini agar iman kita bukan sekadar warisan, melainkan keyakinan yang menghujam kuat dalam sanubari, membimbing setiap langkah kita menuju ridha-Nya.
Semoga Allah Swt senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istiqamah dalam jalan tauhid yang murni, menjauhkan kita dari kesesatan berpikir, dan mengumpulkan kita kelak bersama hamba-hamba-Nya yang mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya pengenalan. *Allahumma inna nas'aluka imanan da'iman, wa qolban khasyi'an, wa 'ilman nafi'an.* Amin Ya Rabbal 'Alamin.
