JABARONLINE.COM - Surah Al-Fatihah merupakan mahkota dalam Al-Quran yang menyandang gelar mulia sebagai Ummul Kitab atau Induk Al-Kitab. Kedudukannya yang begitu sentral menjadikannya sebagai rukun dalam setiap salat, di mana tanpa kehadirannya, ibadah seorang hamba dianggap tidak sah. Keagungan surah ini tidak hanya terletak pada susunan bahasanya yang indah, namun pada kandungan maknanya yang merangkum seluruh risalah samawi yang pernah diturunkan kepada umat manusia sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Puncak dari keagungan Al-Fatihah terletak pada ayat kelima yang menjadi poros penghubung antara Sang Khalik dengan makhluk-Nya. Ayat ini bukan sekadar kalimat yang diucapkan secara lisan, melainkan sebuah proklamasi ketundukan total yang membagi hak Allah dan kebutuhan hamba secara adil. Di sinilah letak rahasia spiritual yang sangat besar, di mana seorang hamba mengakui keterbatasan dirinya di hadapan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara utuh dan mutlak.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَنَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Terjemahan: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 1-7)

Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dua dimensi besar yang menjadi poros agama, yakni berlepas diri dari kesyirikan dan berlepas diri dari kekuatan diri sendiri. Kalimat pertama, "Hanya kepada-Mu kami menyembah", adalah obat bagi penyakit riya dan kesombongan spiritual. Sementara kalimat kedua, "Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan", adalah penawar bagi penyakit ujub dan perasaan mampu yang seringkali menjebak manusia dalam ilusi kekuatan pribadi yang semu.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Terjemahan: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An'am: 162-163)

Dalam dimensi praktis, mengamalkan esensi ayat ini berarti meletakkan seluruh tawakal hanya kepada Zat Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Ketika seorang hamba menghadapi badai ujian yang terasa menyesakkan dada, ia akan kembali pada prinsip *Iyyaka Nasta’in*. Ia menyadari bahwa segala daya dan upaya manusia hanyalah perantara, sedangkan kunci pembuka pintu kemudahan sepenuhnya berada di tangan Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (58)

Terjemahan: Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Furqan: 58)

Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan setiap bacaan Al-Fatihah dalam salat kita sebagai sarana untuk memperbaharui janji setia kepada Allah. Biarlah lisan kita berucap dan hati kita bergetar meresapi makna penghambaan yang murni ini. Semoga dengan mendalami esensi tauhid ini, Allah senantiasa membimbing langkah kita di atas jalan yang lurus, jalan yang dipenuhi dengan limpahan nikmat dan rida-Nya yang tidak pernah terputus.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8)

Terjemahan: (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyerong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran: 8)