Doa merupakan jembatan spiritual yang menghubungkan antara hamba yang fakir dengan Allah Yang Maha Kaya. Dalam pandangan Islam, aktivitas ini bukan sekadar rangkaian kata permohonan, melainkan wujud pengakuan eksistensial manusia di hadapan Sang Pencipta. Melalui doa, seorang mukmin menunjukkan ketundukan total dan keikhlasan yang murni dalam beribadah kepada-Nya.

Para ulama salaf menekankan bahwa doa adalah inti atau "otak" dari segala bentuk ibadah yang kita lakukan setiap hari. Di dalam setiap rintihan doa, terkandung nilai tauhid yang sangat dalam karena kita melepaskan ketergantungan pada sesama makhluk. Pemahaman ini mengajak kita untuk tidak sekadar meminta, tetapi juga meresapi makna kehambaan yang sesungguhnya di hadapan Allah.

Keutamaan doa sebagai inti ibadah ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang sangat masyhur bagi umat Islam. Beliau menjelaskan betapa pentingnya posisi doa dalam struktur penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT agar ibadahnya menjadi sempurna.

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Terjemahan: Doa itu adalah otak (inti) dari ibadah. (HR. Tirmidzi)

Dalam kajian turats, dikenal istilah al-awqat al-fadhilah atau waktu-waktu yang memiliki keutamaan khusus di sisi Allah SWT. Pada momentum emas tersebut, pintu-pintu langit diyakini terbuka lebar bagi setiap hamba yang ingin mengetuknya dengan penuh rasa harap. Para ulama mengajarkan kita untuk jeli dalam memanfaatkan waktu-waktu istimewa ini agar doa kita mencapai derajat ijabah.

Memahami waktu mustajab bukan berarti kita mengabaikan formalitas ritual, melainkan justru untuk memperdalam kualitas spiritualitas kita secara personal. Kita diajak untuk lebih peka terhadap momen-momen saat rahmat Allah turun secara melimpah ke alam semesta untuk hamba-Nya. Dengan sinkronisasi antara niat yang tulus dan waktu yang tepat, komunikasi dengan Sang Khaliq akan terasa jauh lebih bermakna.

Mari kita jadikan setiap doa sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati. Jangan biarkan momentum emas berlalu begitu saja tanpa rintihan tobat dan permohonan yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Semoga dengan memahami dimensi metafisika doa, setiap hajat kita dikabulkan oleh-Nya pada waktu dan cara yang terbaik.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/menyingkap-dimensi-metafisika-doa-analisis-tekstual-dan-kontekstual-waktu-waktu-mustajab-dalam-perspektif-turats