Fenomena media sosial sering kali menjebak generasi muda dalam perasaan tertinggal atau yang populer disebut sebagai FOMO. Aktivitas memantau pencapaian orang lain di layar ponsel tanpa sadar memicu rasa cemas dan ketidakpuasan terhadap hidup sendiri. Padahal, setiap individu memiliki ritme perjalanan hidup yang unik dan tidak bisa disamaratakan dengan standar dunia maya.
Rasa sesak di dada muncul ketika kita melihat teman sebaya sudah meraih kesuksesan finansial, karier, maupun kehidupan berkeluarga. Tekanan budaya populer yang serba cepat ini memaksa mental kita untuk terus berlari mengejar validasi yang semu. Tanpa landasan spiritual yang kuat, paparan informasi yang berlebihan tersebut dapat berujung pada kelelahan mental atau kondisi burnout.
Dalam menghadapi kegelisahan akibat perbandingan sosial ini, Al-Qur'an memberikan penawar yang sangat menyejukkan bagi jiwa yang sedang gundah. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat-Nya untuk menguatkan hati hamba-hamba-Nya yang merasa terdesak oleh keadaan:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Terjemahan: Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (QS. At-Tawbah: 40)
Para ulama sering menekankan pentingnya sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah dalam kondisi apa pun. Sikap ini merupakan benteng pertahanan terbaik agar hati tidak mudah goyah oleh gemerlap pencapaian orang lain yang sering dipamerkan. Dengan qana'ah, fokus kita akan beralih dari apa yang dimiliki orang lain menuju rasa syukur atas nikmat yang ada di depan mata.
Menerapkan mode qana'ah dalam kehidupan sehari-hari bisa dimulai dengan membatasi durasi penggunaan media sosial yang memicu rasa rendah diri. Cobalah untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk digital dan mulai mensyukuri setiap progres kecil yang telah kita capai secara mandiri. Ingatlah bahwa definisi sukses yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu tetap istiqomah di jalan Allah meski dunia menawarkan standar yang berbeda.
Pada akhirnya, ketenangan hati tidak akan pernah ditemukan dalam perbandingan, melainkan dalam penerimaan penuh terhadap ketetapan Sang Pencipta. Berhenti mengejar standar kesuksesan orang lain akan membebaskan jiwa kita dari belenggu kecemasan yang tidak perlu. Mari jadikan qana'ah sebagai gaya hidup agar kita tetap bisa melangkah dengan penuh percaya diri dan meraih keberkahan di setiap detiknya.
Sumber: Muslimchannel
