Kab. BOGOR – Pemerintah Kabupaten Bogor baru saja merilis hasil survei tingkat kepuasan publik yang mencapai angka 83,29% satu tahun di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi. Namun, di balik selebrasi angka yang tampak gemilang tersebut, sejumlah pihak menilai klaim kesuksesan ini terlalu berlebihan dan berpotensi menutupi persoalan mendasar di lapangan.
Berdasarkan data yang dipublikasikan melalui akun resmi @bupatikabbogor, sektor infrastruktur memang mencatat angka tinggi sebesar 92,19%. Namun, antusiasme pemerintah dalam merayakan angka-angka ini berbanding terbalik dengan kondisi sektor-sektor vital yang justru menjadi "titik lemah" kesejahteraan masyarakat.
Sampel Kecil dan Sektor yang Terabaikan
Mengutip postingan Instagram @radar_bogor, Founder Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus), Yusfitriadi, menjelaskan bahwa survei ini hanya dilakukan terhadap 1.600 responden yang tersebar di Kabupaten Bogor.
Penggunaan jumlah sampel yang relatif kecil untuk mewakili jutaan penduduk Kabupaten Bogor ini menambah keraguan apakah angka kepuasan tersebut benar-benar mencerminkan realitas di seluruh lapisan masyarakat.
Capaian 83% tersebut dianggap sebagai angka yang "dipoles" oleh tingginya kepuasan di sektor fisik (jalan dan jembatan), sementara kebutuhan perut masyarakat tampak berada di posisi terendah:
Rendahnya angka di sektor-sektor ini menjadi alarm keras bahwa selebrasi yang dilakukan pemerintah saat ini belum menyentuh substansi masalah utama warga, yakni daya beli dan ketersediaan lapangan kerja.
Ekonomi dan Lapangan Kerja Jadi "Alarm"
Meski rata-rata kepuasan berada di angka 83%, empat sektor utama justru berada jauh di bawah rata-rata tersebut:
.png)
.png)
