Jagat maya saat ini sering kali berubah menjadi arena pertikaian yang dipenuhi dengan narasi negatif. Fenomena perbedaan pendapat di ruang publik belakangan ini cenderung berujung pada tindakan caci maki yang merusak hubungan antarmanusia. Media sosial yang seharusnya menjadi wadah pertukaran gagasan justru kerap disalahgunakan sebagai tempat pembunuhan karakter.

Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam berkomunikasi di tengah masyarakat modern yang serba digital. Padahal, perbedaan pandangan atau ikhtilaf merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Sebagai sunnatullah, keberagaman ide seharusnya dikelola dengan bijak agar tidak melukai martabat sesama individu dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan mendasar yang dihadapi bangsa saat ini bukan terletak pada substansi perbedaan itu sendiri. Masalah utama muncul ketika estetika batin dan akhlak mulai menghilang saat seseorang mengekspresikan ketidaksetujuan mereka di ruang publik. Tanpa adanya kontrol diri yang kuat, diskusi yang cerdas akan tenggelam dalam lautan ego yang saling menjatuhkan satu sama lain.

Islam memberikan panduan yang sangat jelas bahwa cara menyampaikan kebenaran memiliki bobot nilai yang setara dengan kebenaran itu sendiri. Sebuah argumen yang kuat secara data akan kehilangan esensinya jika disampaikan dengan lisan yang tajam dan merendahkan lawan bicara. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap individu untuk senantiasa menjaga lisan dan tulisan dalam setiap interaksi sosial.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan pedoman fundamental bagi umat manusia dalam melakukan dakwah maupun berdiskusi secara sehat. Tuntunan tersebut tertuang secara eksplisit dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah An-Nahl ayat 125 yang menjadi rujukan utama. Ayat ini menekankan pentingnya kebijaksanaan dan tutur kata yang baik dalam setiap proses dialog agar pesan dapat diterima.

Mengembalikan debat ke jalan adab adalah langkah krusial untuk menjaga persaudaraan atau ukhuwah di tengah badai perbedaan. Masyarakat perlu menyadari bahwa memenangkan perdebatan dengan cara menghina bukanlah sebuah kemenangan yang hakiki di mata Tuhan. Justru, kemampuan menghargai pendapat orang lain mencerminkan kedewasaan berpikir dan kemuliaan akhlak yang harus dimiliki setiap mukmin.

Transformasi budaya digital menuju arah yang lebih beradab memerlukan komitmen kolektif dari seluruh lapisan pengguna media sosial. Dengan mengedepankan etika, perbedaan pendapat tidak lagi menjadi ancaman melainkan menjadi kekayaan intelektual yang membangun peradaban. Mari kita jadikan setiap ruang diskusi sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi, bukan justru menjadi jalan untuk memutusnya.