Jajanan pasar, yang selama ini dianggap sebagai warisan kuliner pinggiran, kini mengalami revitalisasi signifikan di tengah masyarakat urban. Upaya pelestarian ini didorong oleh semangat generasi muda yang melihat potensi besar dalam cita rasa klasik Indonesia.
Fakta menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha rintisan kuliner mulai fokus pada pengemasan ulang (rebranding) produk tradisional seperti klepon, getuk, dan kue lapis. Mereka menerapkan standar kebersihan tinggi dan menggunakan bahan baku premium untuk meningkatkan kualitas, menjadikannya setara dengan kudapan modern.
Kebangkitan ini tidak lepas dari tren global "kembali ke akar" (back to basics) yang menekankan pentingnya identitas lokal dan makanan alami. Jajanan pasar menawarkan nostalgia sekaligus keunikan yang sulit ditemukan pada produk makanan cepat saji impor.
Menurut Dr. Rina Sari, seorang pengamat kuliner dan budaya, inovasi pada jajanan pasar adalah kunci keberlanjutan. Ia menyatakan bahwa modifikasi tampilan tanpa menghilangkan esensi rasa asli adalah cara paling efektif untuk menarik konsumen baru, terutama dari kalangan milenial.
Implikasi dari tren ini sangat positif terhadap rantai pasok lokal, terutama petani dan produsen bahan baku tradisional seperti tepung sagu, gula aren, dan singkong. Permintaan yang meningkat mendorong stabilitas ekonomi mikro di pedesaan yang menjadi sentra produksi bahan-bahan tersebut.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa jajanan pasar tidak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga di kafe-kafe modern dan platform daring berkat strategi pemasaran digital. Penggunaan media sosial dengan visual estetik menjadi alat utama untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner ini kepada audiens yang lebih luas.
Dengan sentuhan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, jajanan pasar berhasil bertransformasi dari sekadar kudapan menjadi simbol kebanggaan kuliner nasional. Pelestarian ini membuktikan bahwa warisan rasa Nusantara dapat terus hidup dan bersaing di tengah gempuran tren makanan global.
.png)
.png)
