JABARONLINE.COM, Jakarta, – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai memberikan dampak nyata terhadap kondisi ekonomi di Indonesia.

Salah satu dampak yang paling terasa adalah lonjakan harga plastik yang berimbas langsung pada sektor pertanian, khususnya distribusi gabah. Kenaikan harga tersebut bahkan memicu kelangkaan karung berbahan plastik di sejumlah daerah.

“Memang ada beberapa dampak yang terasa. Misalnya sekarang plastik, itu luar biasa naiknya. Bahkan tadi ada yang mengadu kepada saya dari Kalimantan Barat, mau beli gabah, karungnya tidak ada karena berbahan plastik,” ujar Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2026).

Selain itu, gangguan juga terjadi pada jalur logistik global akibat konflik yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz. Penutupan jalur vital tersebut memaksa kapal-kapal kargo mengambil rute lebih panjang, sehingga waktu tempuh dan biaya pengiriman meningkat drastis.

“Sekarang transportasi laut itu harus memutar. Yang tadinya 20 hari, sekarang bisa 60 hari. Yang sebelumnya 30 hari, sekarang juga bisa lebih lama,” jelasnya.

Tidak hanya sektor logistik, konflik ini juga memicu kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tarif tiket pesawat hingga 13 persen.

“Karena itu, seperti plastik dan avtur yang naik, ongkos pesawat boleh 13 persen, itu dampak daripada apa yang terjadi di kawasan perang Amerika–Israel–Iran,” tambahnya.

Meski demikian, Zulhas memastikan bahwa kondisi ketahanan pangan nasional, khususnya beras, tetap aman. Ia menegaskan tidak akan terjadi kelangkaan maupun kenaikan harga beras dalam waktu dekat.

“Beras aman, tidak ada kenaikan apapun. Sampai tahun 2026 beras kita aman, bahkan saya kira 2027,” tegasnya.