JABARONLINE.COM - Isu mengenai pola konsumsi informasi generasi muda Indonesia kini menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya di sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) secara terbuka menyoroti sebuah fenomena digital yang tengah marak terjadi.

Fenomena yang dimaksud adalah apa yang kini dikenal luas sebagai scroll society. Istilah ini merujuk pada sebuah perilaku adiktif yang sangat lazim di kalangan anak muda saat ini.

Secara definitif, scroll society digambarkan sebagai kebiasaan tanpa henti menggulir (scroll) layar gawai mereka. Aktivitas ini dilakukan untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari informasi, bermain gim, hingga berinteraksi di platform media sosial.

Dampak negatif dari kebiasaan masif ini mulai terlihat jelas dalam kemampuan kognitif para remaja. Akibat dari konsumsi informasi yang terlalu cepat, pemahaman mendalam terhadap materi yang diterima menjadi terhambat.

Kondisi ini kemudian berujung pada terbentuknya sebuah budaya yang serba instan dalam diri mereka. Konten yang dicari dan dikonsumsi cenderung pendek, padat, dan cepat berganti, memicu siklus yang sulit diputus.

Kebiasaan mencari kepuasan instan dari konten digital inilah yang kemudian menimbulkan masalah serius berupa kecanduan. Fenomena kecanduan terhadap konten serba cepat ini dinilai bukan sekadar tren sesaat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, secara tegas menyatakan kekhawatiran mendalamnya terhadap dampak jangka panjang dari perilaku ini.

"Kecanduan pada konten instan ini menurut Menteri Mu'ti merupakan ancaman nyata bagi generasi muda," ujar Menteri Abdul Mu'ti, menekankan urgensi penanganan masalah ini.

Para pemuda yang terperangkap dalam scroll society berisiko kehilangan kemampuan untuk mencerna informasi secara utuh dan kritis. Hal ini berpotensi menggerus kualitas literasi dan pemikiran analitis mereka.