JABARONLINE.COM - Industri penerbangan global kini menghadapi tantangan finansial signifikan menyusul kenaikan drastis pada harga bahan bakar pesawat udara (avtur). Gejolak ini disebut terkait langsung dengan meningkatnya tensi geopolitik yang terjadi di wilayah Timur Tengah.
Kenaikan biaya operasional ini secara otomatis mendorong sejumlah maskapai penerbangan untuk melakukan penyesuaian tarif tiket yang harus dibayar oleh konsumen. Dampak dari fluktuasi harga avtur ini diperkirakan akan meluas dan memengaruhi pola perjalanan udara internasional ke depannya.
Dilansir dari Reuters, beberapa operator penerbangan besar telah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyesuaian struktur tarif mereka. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap tekanan biaya yang semakin tidak terhindarkan dalam operasional harian.
Maskapai yang terdampak termasuk raksasa dari Australia, Qantas Airways, serta pemain utama dari Eropa Utara, Scandinavian Airlines (SAS), dan maskapai nasional Selandia Baru, Air New Zealand. Semua mengumumkan penyesuaian tarif pada hari yang sama.
Pengumuman penyesuaian tarif penerbangan oleh maskapai-maskapai tersebut secara resmi disampaikan pada hari Selasa, tepatnya tanggal 10 Maret 2026. Tanggal ini menjadi penanda dimulainya periode penyesuaian harga tiket bagi para pelancong.
Penyebab utama dari kenaikan biaya mendadak ini menurut pihak maskapai adalah lonjakan harga bahan bakar yang tidak terduga. Lonjakan ini dikaitkan dengan memanasnya situasi dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
"Maskapai seperti Qantas Airways, Scandinavian Airlines (SAS), dan Air New Zealand pada Selasa (10/3/2026) mengumumkan penyesuaian tarif penerbangan," ujar seorang analis pasar penerbangan, mengacu pada laporan yang ada.
Lebih lanjut, mereka menjelaskan bahwa fluktuasi harga bahan bakar terjadi secara tiba-tiba setelah adanya peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hal ini memicu perhitungan ulang biaya operasional secara cepat, kata perwakilan industri tersebut.
Kenaikan harga avtur ini, yang mengguncang fondasi keuangan industri penerbangan internasional, berpotensi besar memengaruhi rencana perjalanan udara global dalam beberapa bulan mendatang, dilansir dari Reuters.
