Langit sore itu tampak begitu kelabu, seolah-olah ikut merasakan beratnya beban yang tiba-tiba jatuh di pundakku. Aku yang biasanya hanya peduli pada tawa teman-teman, kini harus menatap realitas yang jauh lebih pahit dari sekadar kegagalan ujian.

Ayah pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di tengah ruang tamu kami. Sejak saat itu, setiap sudut rumah terasa asing dan menuntutku untuk segera menanggalkan jiwa kekanak-kanakanku demi mereka yang tersisa.

Menjadi dewasa ternyata bukan tentang angka usia, melainkan tentang bagaimana kita merespons kehilangan yang tak terduga. Aku mulai belajar bahwa tanggung jawab adalah bahasa cinta yang paling jujur untuk ibu dan adik-adikku di rumah.

Setiap malam, aku merenung di depan jendela, menyadari bahwa setiap bab dalam novel kehidupan ini memiliki plot yang tak bisa aku tebak. Luka yang menganga perlahan menjadi guru yang paling sabar dalam mengajariku arti ketabahan yang sesungguhnya.

Aku mulai mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota untuk membantu menyambung hidup. Di sana, aku melihat berbagai wajah dengan beban mereka masing-masing, yang membuatku sadar bahwa aku tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Ada saat-saat di mana aku ingin menyerah dan kembali menjadi anak kecil yang hanya tahu cara merengek. Namun, senyum adikku saat menerima buku sekolah baru dariku adalah bahan bakar yang membakar habis rasa lelah dan keraguan itu.

Kedewasaan datang merayap melalui tagihan listrik, cucian yang menumpuk, dan keputusan sulit yang harus diambil setiap hari. Aku belajar untuk memaafkan keadaan dan berhenti menyalahkan takdir atas segala sesuatu yang telah hilang dari genggamanku.

Kini, aku berdiri dengan punggung yang lebih tegak, meski luka di hati belum sepenuhnya sembuh secara sempurna. Aku memahami bahwa setiap air mata yang jatuh adalah investasi untuk kekuatan yang akan sangat kubutuhkan di masa depan nanti.

Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang memilih untuk tetap berjalan meski kaki terasa sangat berat untuk melangkah. Namun, ketika satu pintu tertutup, apakah aku benar-benar siap menghadapi rahasia yang tersimpan di balik pintu berikutnya?