Malam itu, sunyi terasa lebih berat dari biasanya saat aku menatap pantulan diriku di cermin yang retak. Aku menyadari bahwa bayangan yang menatap balik bukan lagi remaja yang penuh amarah dan tuntutan kepada dunia.
Kehilangan yang datang tanpa mengetuk pintu telah meruntuhkan menara gading kenyamanan yang selama ini kubangun dengan angkuh. Aku dipaksa berdiri di atas kaki sendiri saat dunia terasa sedang berguncang hebat di bawah pijakanku yang rapuh.
Awalnya, aku menyalahkan takdir dan setiap orang yang berpapasan denganku di persimpangan jalan yang gelap ini. Namun, kemarahan hanyalah api yang membakar diriku sendiri tanpa pernah memberikan kehangatan yang benar-benar kubutuhkan.
Perlahan, aku mulai belajar bahwa kedewasaan tidak datang melalui perayaan ulang tahun yang megah atau angka yang bertambah. Ia lahir dari setiap keputusan sulit yang kuambil ketika hatiku sebenarnya ingin sekali menyerah pada keadaan.
Setiap lembar hari yang kulewati kini terasa seperti bab-bab dalam sebuah Novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Aku bukan lagi sekadar pembaca yang pasif, melainkan penulis yang harus berani menggoreskan tinta keberanian di atas kertas nasib.
Aku mulai memaafkan masa lalu yang pahit dan merangkul kegagalan sebagai guru yang paling jujur dalam mendidik mental. Ternyata, melepaskan keinginan untuk mengendalikan segalanya adalah bentuk kekuatan yang paling murni yang pernah kurasakan.
Kini, langkah kakiku terasa lebih mantap meski jalan di depan masih tertutup kabut tipis yang misterius. Luka-luka lama tidak lagi terasa perih, melainkan menjadi kompas yang menuntunku menuju arah yang jauh lebih bermakna.
Kedewasaan adalah seni untuk tetap tenang di tengah badai dan tetap memberi meski tangan kita sendiri sedang kosong. Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang bermakna, melainkan seberapa dalam kita memahami arti menjadi manusia seutuhnya.
.png)
.png)
