Hujan sore itu seolah membawa pesan yang belum sempat terbaca oleh egoku yang masih mentah. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa dunia tidak lagi berputar hanya untuk memanjakan keinginanku.
Dulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal pertambahan angka dan kebebasan untuk pergi ke mana saja. Namun, kenyataan menghantamku dengan tanggung jawab yang menuntut lebih dari sekadar keberanian untuk bicara.
Saat kegagalan pertama datang mengetuk pintu, aku belajar bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses penyucian jiwa. Setiap tetesnya mengikis kesombongan yang selama ini menyelimuti pandanganku terhadap dunia luar.
Dalam setiap bab Novel kehidupan yang sedang kutulis ini, aku mulai memahami bahwa kesabaran adalah senjata paling ampuh. Tidak semua doa dijawab dengan kepastian, karena terkadang penantian adalah cara semesta membentuk karakterku.
Aku belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, mencoba memahami luka orang lain sebelum menghakimi tindakan mereka. Kedewasaan ternyata adalah tentang memberikan ruang bagi orang lain untuk bernapas dengan lega di samping kita.
Kehilangan sesuatu yang sangat berharga menjadi titik balik yang paling menyakitkan sekaligus mendewasakan jiwaku. Di sana aku mengerti bahwa waktu adalah aset paling berharga yang seringkali kita sia-siakan demi ambisi semu.
Kini, aku menatap cermin dan melihat sosok yang lebih tenang, yang tidak lagi meledak-ledak saat rencana tidak berjalan semestinya. Ada kedamaian yang tumbuh perlahan di sela-sela bekas luka yang dulu sempat kuanggap sebagai sebuah aib.
Kedewasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan diri sendiri dan dunia. Pertanyaannya, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi bab selanjutnya yang mungkin akan jauh lebih menantang?
.png)
.png)
