JABARONLINE. COM, – Harga beras di Indonesia yang relatif lebih tinggi dibanding negara tetangga disebut bukan persoalan baru. Fenomena ini bahkan telah berlangsung sejak dekade 1980-an.
Pakar Agronomi dan Hortikultura IPB yang juga Direktur Seameo Biotrop, Edi Santosa, mengatakan ketimpangan harga beras antara Jakarta dan Bangkok sudah terlihat sejak lebih dari empat dekade lalu.
“Selama 40 tahun masalah harga mahal ini terus ada. Jadi, kita tidak bisa hanya menyalahkan pelaku pasar. Kalau bertahan selama itu, berarti ada persoalan regulasi yang harus ditata ulang secara menyeluruh,” ujar Edi, Rabu kemarin.
Menurut dia, mahalnya harga beras bukan semata akibat mekanisme pasar atau ulah pedagang. Ada persoalan fundamental dalam tata kelola pangan nasional yang belum terselesaikan hingga kini.
Edi mempertanyakan mengapa Indonesia belum mampu membuat harga beras lebih kompetitif, setidaknya mendekati harga di pasar internasional atau negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Konsumsi Beras Segar dan Isu Stunting
Selain persoalan harga, Edi juga menyoroti pentingnya akses masyarakat terhadap beras segar (fresh rice). Ia menyebut beras segar memiliki kandungan gizi dan senyawa tertentu yang berdampak pada kualitas hidup masyarakat.
“Kalau masyarakat kita makan beras segar, Indonesia pasti akan menjadi negara yang jauh lebih bahagia. Selain ada hormon yang memengaruhi rasa bahagia, kandungan gizinya juga penting. Jika konsumsi beras segar meningkat, masalah stunting bisa ditekan dan kualitas SDM menuju Indonesia 2045 akan lebih baik,” ujarnya.
Namun, ketersediaan beras segar sangat bergantung pada perputaran stok di Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Jika stok terlalu lama tersimpan di gudang, kualitas akan menurun dan biaya penyimpanan meningkat.
