KAB. BOGOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor tengah menyiapkan perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang jatuh pada 3 Juni 2026 dengan pendekatan yang revolusioner. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu berpusat di ibu kota kabupaten, Cibinong, kali ini Bupati Bogor Rudy Susmanto memutuskan untuk menggeser episentrum perayaan ke "titik nol" sejarah Kabupaten Bogor, yakni di Kecamatan Nanggung.

Keputusan ini bukan sekadar pemindahan lokasi seremonial, melainkan sebuah gerakan "napak tilas" yang sarat akan makna historis dan ekonomi. Langkah berani ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat di wilayah Bogor Barat, sekaligus memperkuat identitas jati diri daerah bagi seluruh warga Kabupaten Bogor.

Mengembalikan Makna Historis ke Akar Rumput

Dalam rapat persiapan yang dipimpin langsung di Pendopo Bupati Bogor, Minggu (3/5/2026), Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan bahwa perayaan HJB ke-544 harus menjadi momentum refleksi. Selama ini, perayaan di kawasan Tegar Beriman cenderung menjadi rutinitas tahunan yang bersifat administratif. Kini, Pemkab Bogor ingin membawa semangat hari jadi kembali ke akarnya.

"Bogor ini berangkatnya dari mana? Dari Kecamatan Nanggung. Selama ini perayaan HJB selalu di (lapangan) Tegar Beriman lagi, Tegar Beriman lagi. Kita lupa bahwa akarnya ada di sana," ujar Rudy dalam potongan video yang ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, @rudysusmanto.

Pemilihan Nanggung bukan tanpa alasan. Wilayah ini secara historis memegang peranan vital dalam perjalanan berdirinya Kabupaten Bogor. Dengan memindahkan lokasi upacara dan Rapat Paripurna Istimewa ke Nanggung, Pemkab Bogor ingin menegaskan bahwa peringatan HJB adalah milik seluruh warga, bukan hanya mereka yang berada di pusat pemerintahan.

Tiga Misi Utama: Berbagi Rezeki hingga Gotong Royong

Perubahan konsep ini dirumuskan dalam tiga misi utama yang diusung oleh Bupati Rudy Susmanto. Misi ini diharapkan mampu mengubah paradigma perayaan yang dulunya hanya bersifat seremonial menjadi ajang pemberdayaan ekonomi lokal.

  • Berbagi Rezeki Secara Merata: Selama ini, perputaran uang saat HJB cenderung terkonsentrasi di Cibinong. Dengan memindahkan pusat keramaian ke wilayah Bogor Barat, pemerintah ingin memastikan distribusi ekonomi menjangkau masyarakat yang lebih luas, memberikan napas bagi pedagang lokal dan pelaku usaha di wilayah tersebut.
  • Menggerakkan Roda Ekonomi Kreatif: Melalui rangkaian helaran dan karnaval budaya yang disebar ke tiap kecamatan, sektor UMKM dan ekonomi kreatif lokal diharapkan bangkit. Setiap kecamatan didorong untuk memamerkan potensi budayanya masing-masing.
  • Membangkitkan Semangat Gotong Royong: Rudy menekankan pentingnya pelibatan warga secara aktif. Ia berharap setiap agenda peringatan tidak didikte dari atas, melainkan tumbuh dari inisiatif warga di setiap kecamatan, sehingga semangat gotong royong benar-benar terasa nyata.