JABARONLINE.COM - Pergerakan pasar keuangan domestik menunjukkan tekanan signifikan pada Kamis, 30 April, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemunduran drastis hingga jebol dari level psikologis 7.000. IHSG tercatat ditutup pada posisi 6.956,8, menandai penurunan sebesar 2,03% pada hari tersebut.
Aksi jual oleh investor asing menjadi pemicu utama pelemahan ini, dengan tercatatnya net sell jumbo sebesar Rp 1,48 triliun hanya dalam satu hari. Tren ini diperparah dengan akumulasi penjualan bersih asing yang mencapai Rp 10,86 triliun selama tujuh hari perdagangan berturut-turut.
Pada hari yang sama, mata uang Garuda juga mencatat kinerja terburuk sepanjang sejarah pencatatannya, sebagaimana data Jisdor Bank Indonesia. Rupiah ditutup pada level Rp 17.378 per Dolar Amerika Serikat (AS), menggarisbawahi sentimen negatif pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Fenomena ini mengulang peringatan yang pernah dikeluarkan oleh Kontan pada Juli 2025, mengenai reli IHSG yang dinilai tidak didukung oleh fundamental yang kuat dan merata di seluruh sektor. Penguatan indeks saat itu disebut banyak didorong oleh saham-saham tertentu yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi.
Kondisi tersebut telah menarik perhatian Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang melihat bahwa kondisi pasar belum sepenuhnya mencerminkan kredibilitas pasar yang memadai. Upaya pemerintah untuk memenuhi aturan MSCI sejauh ini belum berhasil mengubah persepsi negatif investor mengenai arah kebijakan fiskal.
Investor dilaporkan masih menyimpan kekhawatiran mendalam terkait kualitas belanja pemerintah dan stabilitas fiskal Indonesia secara keseluruhan. Pelemahan rupiah secara langsung mencerminkan penurunan kepercayaan pasar terhadap kesehatan fiskal domestik.
Proyeksi beban bunga utang Indonesia diprediksi mencapai Rp 599,44 triliun pada tahun 2026, meningkat 8,6% dari proyeksi tahun 2025 yang sebesar Rp 552,14 triliun. Hal ini menunjukkan peningkatan beban pembayaran bunga yang signifikan bagi kas negara.
"Beban bunga utang menyedot sekitar 22,27% dari total pendapatan perpajakan negara, melampaui standar keamanan internasional yang umumnya menempatkan rasio ideal di kisaran 10% dari pendapatan negara," demikian temuan dalam laporan Analisis Kritis Keberlanjutan Utang Indonesia 2026 yang disusun Strategic and Economic Action Institution (ISEAI).
Laporan ISEAI tersebut menyimpulkan bahwa posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai sedang memasuki level waspada tinggi dalam konteks pengelolaan utang negara. Di sisi lain, sektor riil menunjukkan stagnasi, di mana fenomena kredit menganggur (undisbursed loan) per Maret 2026 mencapai Rp 2.527,46 triliun, atau lebih dari 20% dari total plafon.
