JABARONLINE.COM - Dra. Sitti Dahlia Azis, seorang Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025, menekankan bahwa setiap karya tulisan merupakan cerminan otentik dari hati dan pikiran penulis. Ia menegaskan bahwa esensi menulis terletak pada penjagaan kejernihan makna dan integritas substansi, bukan sekadar kuantitas terbitan.

Perjalanan Azis teruji ketika naskah solo berjudul Senandung Pucuk Pinus menjalani proses verifikasi ketat oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel. Pengalaman ini mengajarkan nilai fundamental dari kesabaran dan ketelitian dalam proses seleksi karya literasi.

Dalam proses verifikasi tersebut, Azis menunjukkan prinsip selektivitas yang tinggi dengan hanya mengirimkan 30 judul dari total 850 naskah yang ia telaah. Dari jumlah yang disaring itu, hanya satu karyanya yang berhasil mendapatkan endorsement dari Kepala Cabang Dinas (Kacabdis).

Keberhasilan tersebut membawanya mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) yang dipandu oleh Bapak Faisal Odang bersama sejumlah profesor sastra. Momen ini bukan semata tentang pencapaian pribadi, melainkan pelajaran mendalam tentang etika dan integritas profesional dalam dunia kepenulisan.

Azis mengungkapkan realitas pahit yang ia temui selama proses penelaahan di Dahlia Pustaka, di mana ditemukan indikasi plagiarisme pada sejumlah karya. "Sekitar 65% naskah yang kami telaah di Dahlia Pustaka," mengalami masalah plagiat, ungkapnya.

Meskipun menghadapi temuan plagiarisme tersebut, Azis memilih untuk menjaga marwah rekan sejawatnya. Ia menyatakan, "Aku tidak pernah mengungkap siapa yang menyalin. Harga diri teman lebih penting daripada sekadar menyebut kesalahan mereka," tegasnya.

Bagi penulis pemula, Azis menyarankan agar mereka mengikuti bimbingan secara tekun, melaksanakan revisi naskah dengan saksama, dan menjadikan perbaikan sebagai bagian integral dari pembelajaran. Prinsip ini berlaku bahkan bagi penulis berpengalaman yang terindikasi melakukan copy-paste.

Ia mengingatkan pentingnya kerendahan hati berdasarkan nasihat dari adiknya. "Jangan sombong, tidak perlu like dan komentar yang manis-manis sebab itu akan melenakan kamu dan akhirnya lupa diri," kutipan tersebut disampaikan oleh adik Dra. Sitti Dahlia Azis.

Filosofi tersebut berfungsi sebagai filter moral dan spiritual dalam setiap langkahnya di kegiatan literasi, mengutamakan kualitas karya di atas pujian semata. Azis menekankan, "Kejernihan karya lebih utama daripada jumlah karya atau pujian," jelasnya.