Langit sore itu tampak lebih gelap dari biasanya, seolah-olah semesta sedang bersiap meruntuhkan seluruh duniaku yang selama ini terasa aman. Kabar duka yang datang tiba-tiba memaksa kaki mudaku untuk berhenti berlari mengejar mimpi-mimpi yang selama ini hanya berpusat pada ego semata.
Aku yang terbiasa hidup nyaman di bawah perlindungan orang tua kini harus berdiri tegak di garis depan menghadapi badai. Tanggung jawab yang dulu terasa seperti dongeng jauh, kini membebani pundakku dengan kenyataan yang sangat dingin dan tidak kenal kompromi.
Lembar demi lembar hari kulewati dengan air mata yang harus disembunyikan di balik senyum palsu demi menguatkan adik-adikku. Setiap keputusan yang kuambil bukan lagi tentang apa yang kuinginkan, melainkan tentang apa yang harus dilakukan agar kami tetap bertahan.
Dalam proses yang melelahkan ini, aku menyadari bahwa setiap bab dalam Novel kehidupan yang kutulis tidak selalu berisi tentang tawa. Ada bab-bab gelap dan penuh luka yang justru menjadi fondasi paling kokoh bagi kedewasaan yang sedang aku bangun dengan susah payah.
Aku mulai belajar mendengarkan hening dan memahami bahwa diam terkadang jauh lebih bijak daripada teriakan penuh amarah. Kedewasaan ternyata bukan tentang angka usia yang terus bertambah, melainkan tentang sejauh mana kita mampu berdamai dengan takdir yang paling pahit sekalipun.
Kegagalan yang dulu sangat kutakuti kini kusambut sebagai guru yang paling jujur dalam mengajarkan arti ketabahan. Aku tak lagi menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam, melainkan fokus pada bagaimana caranya merajut kembali benang-benang harapan yang sempat terputus.
Kini, saat aku berkaca di depan cermin, aku tidak lagi melihat sosok pemuda yang rapuh dan penuh dengan keraguan. Ada binar ketegaran di mataku, sebuah tanda nyata bahwa badai besar telah berhasil kutaklukkan dengan kesabaran dan kerja keras yang luar biasa.
Kedewasaan adalah pilihan untuk tetap melangkah maju meskipun kaki berdarah tertusuk duri kenyataan yang tajam. Sebab pada akhirnya, keindahan sebuah perjalanan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berani menuntaskan luka hingga berubah menjadi permata yang berkilau.
.png)
.png)
