Gemericik hujan malam itu seolah mengetuk pintu kesadaranku yang selama ini tertidur lelap. Aku terdiam menatap pantulan diriku di jendela, menyadari betapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengejar ambisi semu.
Dahulu, aku mengira kedewasaan hanyalah soal angka dan kebebasan untuk melakukan apa pun tanpa izin. Namun, kenyataan pahit menghantamku saat aku menyadari bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah pelarian yang kekanak-kanakan.
Saat aku berdiri di depan rumah tua yang penuh kenangan, beban di pundakku terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Di sinilah aku belajar bahwa setiap keputusan yang kuambil memiliki gema yang akan memengaruhi orang-orang yang kusayangi.
Lembar demi lembar hari yang kulewati kini terasa seperti bab-bab dalam sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Aku mulai memahami bahwa luka dan kegagalan bukanlah akhir, melainkan tinta yang menuliskan kekuatan pada jiwaku.
Aku melihat tangan ayah yang kini mulai gemetar, sebuah pemandangan yang dulu sering kuabaikan demi egoku sendiri. Rasa sesak merayapi dada saat aku menyadari bahwa menjadi dewasa berarti belajar untuk lebih banyak memberi daripada menuntut.
Tidak ada lagi teriakan protes atau kemarahan yang meluap-luap saat rencana tidak berjalan sesuai keinginan. Aku belajar untuk menarik napas panjang dan memeluk ketidakpastian dengan senyuman yang lebih tenang.
Setiap tetes air mata yang jatuh di masa lalu kini telah mengkristal menjadi kebijaksanaan yang menuntun langkahku. Aku bukan lagi pemimpi yang hanya melihat ke langit, melainkan pengembara yang kakinya berpijak kuat di atas bumi.
Kedewasaan ternyata bukan tentang seberapa tinggi kita mendaki, melainkan seberapa dalam kita mampu memahami arti sebuah pengorbanan. Di ujung jalan ini, aku hanya berharap waktu masih memberiku kesempatan untuk menebus setiap detik yang pernah kusia-siakan.
